Dino Patti Djalal Nilai Wacana Prabowo Mediasi AS–Israel–Iran Tak Realistis, Minta Tinjau Ulang Pengiriman Pasukan

Dino Patti Djalal

Jakarta, Satuju.com - Diplomat senior Dino Patti Djalal menilai wacana Presiden Prabowo Subianto untuk terbang langsung ke Teheran guna memediasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sebagai langkah yang tidak realistis di tengah eskalasi kawasan yang semakin memanas.

Pernyataan tersebut disampaikan Dino sebagaimana dilansir dari akun TikTok @diskursusnetwork. Menurutnya, situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini berada dalam fase yang sangat sensitif, dengan dinamika keamanan yang berubah cepat dan melibatkan kepentingan global yang kompleks.

“Dalam kondisi seperti sekarang, inisiatif mediasi tingkat tinggi tentu membutuhkan kalkulasi yang sangat matang. Tidak hanya soal niat baik, tetapi juga soal momentum, dukungan internasional, dan jaminan keamanan,” ujar Dino dalam pernyataannya.

Ia menegaskan bahwa diplomasi Indonesia selama ini dikenal mengedepankan prinsip bebas aktif. Namun, langkah-langkah konkret di medan konflik berskala besar tetap harus mempertimbangkan realitas politik dan keamanan di lapangan. Terbang langsung ke pusat ketegangan, menurutnya, berisiko tidak hanya secara diplomatik tetapi juga secara strategis.

Selain soal rencana mediasi, Dino juga mengimbau pemerintah Indonesia untuk meninjau ulang wacana pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza. Ia menilai situasi keamanan di wilayah tersebut masih sangat dinamis dan berpotensi membahayakan personel yang ditugaskan.

“Pengiriman pasukan perdamaian membutuhkan mandat internasional yang jelas serta jaminan keamanan yang memadai. Tanpa itu, risiko di lapangan akan sangat tinggi,” tambahnya.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam beberapa waktu terakhir memang menunjukkan eskalasi signifikan. Serangan balasan, ketegangan diplomatik, serta manuver militer di kawasan telah memicu kekhawatiran meluasnya perang terbuka di Timur Tengah.

Di tengah situasi tersebut, kehati-hatian diplomasi dinilai menjadi faktor kunci bagi posisi Indonesia di panggung global. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan anggota aktif berbagai forum internasional, Indonesia memiliki kepentingan menjaga kredibilitas serta konsistensi politik luar negerinya.

Sejumlah pengamat menilai, langkah diplomasi simbolik tanpa dukungan konsensus internasional yang kuat berpotensi menempatkan Indonesia pada posisi sulit. Karena itu, pendekatan multilateral melalui forum-forum resmi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dinilai lebih realistis dibandingkan inisiatif unilateral di tengah konflik bersenjata yang belum mereda.

Dengan dinamika kawasan yang terus berubah, pemerintah diharapkan mampu menimbang secara cermat setiap langkah strategis agar tetap sejalan dengan prinsip perdamaian, namun tetap memperhatikan aspek keamanan nasional dan kepentingan jangka panjang Indonesia.