Sabar Tambunan Soroti Konflik Iran–Amerika Serikat, Dinilai Bisa Berlarut Tanpa Pemenang

Ilustrasi. (poto Ai)

Jakarta, Satuju.com — Pengamat politik internasional, Sabar Tambunan, menilai konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas saat ini berpotensi berlangsung panjang tanpa pemenang yang jelas, seperti yang terjadi pada konflik di masa lalu.

Menurut Sabar, sejarah menunjukkan bahwa konfrontasi militer terhadap Iran tidak mudah menghasilkan kemenangan bagi pihak mana pun. Ia mencontohkan perang besar antara Iran dan Irak yang berlangsung selama delapan tahun, dari 1980 hingga 1988.

“Setahun setelah terbentuknya Republik Islam Iran, Amerika bersama Irak langsung menyerang Iran. Perang Iran melawan Irak yang didukung Amerika berlangsung selama delapan tahun tanpa menghasilkan pemenang,” ujarnya.

Pada masa itu, kata Sabar, dukungan dari negara-negara sekutu Amerika terhadap Irak masih sangat kuat. Namun, hasil akhirnya tetap tidak memberikan kemenangan yang jelas bagi salah satu pihak.

Ia kemudian membandingkan situasi tersebut dengan kondisi geopolitik saat ini. Menurutnya, konflik terbaru yang disebutnya dimulai pada 28 Februari 2026 melibatkan Amerika bersama Israel yang menyerang Iran.

Sabar mempertanyakan sejauh mana dukungan sekutu Amerika dalam konflik terbaru tersebut, terutama di tengah dinamika politik global yang semakin kompleks.

Di sisi lain, ia menilai Iran memiliki hubungan dengan sejumlah negara besar yang juga memiliki kekuatan militer signifikan, seperti Rusia, China, dan Korea Utara.

“Menurut saya, dulu saja perang Iran melawan Irak yang didukung Amerika selama 1980–1988 tidak menghasilkan pemenang. Apalagi jika konflik besar terjadi saat ini,” kata Sabar.

Ia juga menyoroti dinamika politik di dalam negeri Amerika Serikat terkait kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump. Menurutnya, keputusan terkait konflik tersebut memicu reaksi keras dari sebagian masyarakat dan politisi di Amerika.

Sabar menilai kritik terhadap kebijakan pemerintah Amerika muncul dari berbagai kalangan, termasuk dari masyarakat serta sejumlah politisi di Kongres.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi membawa dampak luas terhadap stabilitas global apabila tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.