Rupiah Tembus Level Rp17.000 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Konflik Timur Tengah
Ilustrasi. (poto/net).
Jakarta, Satuju.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah dan menembus level psikologis Rp17.000 pada perdagangan Senin (9/3/2026). Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Melansir laporan CNN Indonesia, tekanan terhadap rupiah terjadi setelah muncul sentimen global terkait serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi tersebut memicu lonjakan harga komoditas energi, khususnya minyak mentah, yang kemudian berdampak pada pasar valuta asing.
Lonjakan harga minyak biasanya meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, karena kebutuhan devisa untuk impor energi menjadi lebih besar. Kondisi ini pada akhirnya turut memengaruhi nilai tukar rupiah di pasar.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026) sore, rupiah berada di level Rp16.925 per dolar AS. Saat itu, mata uang Garuda tercatat melemah sekitar 20 poin atau 0,12 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.
Analis pasar menilai gejolak geopolitik global menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Ketika ketegangan meningkat, investor cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang termasuk rupiah mengalami tekanan.
Selain faktor eksternal, pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global, termasuk fluktuasi harga komoditas, arus modal asing, serta kebijakan moneter negara-negara besar.
Level Rp17.000 per dolar AS sendiri kerap dianggap sebagai batas psikologis bagi rupiah di pasar keuangan. Ketika angka tersebut terlewati, biasanya perhatian pelaku pasar dan pemerintah meningkat karena dapat berdampak pada berbagai sektor ekonomi, termasuk inflasi, biaya impor, hingga stabilitas harga barang.
Pemerintah dan otoritas moneter diperkirakan akan terus memantau perkembangan pasar global serta menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional.
