Kritik, Kekuasaan, dan Risiko Menelan Kembali Kata-Kata Sendiri
Ilustrasi. (poto/net).
Satuju.com - Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang cara dan gaya mengkritisi kekuasaan. Dalam tulisan itu saya mengatakan, “jangan terlalu keras, nanti menjilat ludah sendiri.” Kalimat itu lahir dari pengamatan sederhana terhadap banyak peristiwa yang terjadi di sekitar kita, baik yang saya lihat dari jarak jauh, maupun dari jarak yang sangat dekat.
Berkali-kali kita menyaksikan orang yang mengkritik dengan sangat keras, bahkan cenderung membabi buta. Nada suaranya tinggi, kata-katanya tajam, dan posisinya seolah berdiri paling tegak di barisan oposisi. Tetapi waktu berjalan. Panggung berubah. Kekuasaan bergeser. Pada akhirnya tidak sedikit dari mereka yang justru menjadi orang paling penakut, paling cepat menyesuaikan diri, bahkan tidak jarang berubah menjadi penjilat dan pengkhianat terhadap kata-katanya sendiri.
Sebaliknya, mereka yang mampu menata emosi dan menjaga cara berkomunikasi sering kali justru lebih tahan lama. Kritiknya tidak selalu keras, tetapi konsisten. Tidak selalu dramatis, tetapi bertahan. Mereka tidak mudah terjebak oleh situasi yang memaksa mereka menelan kembali kata-kata yang pernah diucapkan.
Memang tidak mudah berdialog dengan kekuasaan. Apalagi ketika yang dihadapi adalah tembok kekuasaan. Kekuasaan memiliki banyak cara: merangkul, menekan, mengabaikan, bahkan kadang menunggu sampai lawannya lelah dengan sendirinya.
Pada saat bedah buku Jokowi White Papers beberapa waktu lalu, senior saya, Buya Shohibul Anshor Siregar pernah mengingatkan agar saya tidak terlalu larut dan percaya pada permainan yang sedang berlangsung. Sebuah nasihat yang sederhana, tetapi sangat penting. Syukurnya saya memang bukan termasuk orang yang mudah kagum dan percaya begitu saja.
Kepada Rismon Sianipar dan kawan-kawan, kepada Joko Widodo, Prabowo Subianto, atau Anies Baswedan, dan siapa pun yang berada di panggung kekuasaan, saya berusaha untuk tidak menaruh kekaguman terlalu tinggi. Sebab kuasa dan kekuasaan hampir selalu memiliki caranya sendiri, dalam merangkul siapa yang perlu dirangkul, dan menekan siapa yang perlu ditekan.
Karena itu ketika Rismon dalam beberapa waktu terakhir sangat keras mengkritik, bahkan menghujat Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka—terutama dalam polemik soal ijazah hingga menyeret pada soal-soal pribadi, saya melihatnya sebagai keberanian yang luar biasa. Tidak banyak orang berani mengambil posisi seperti itu di tengah atmosfer politik yang penuh tekanan.
Namun ketika kemudian Rismon berbalik arah, saya juga melihatnya sebagai sesuatu yang sama luar biasanya. Di zaman ketika jejak digital tersimpan rapi dan bisa dibuka kapan saja, perubahan sikap seperti itu tentu bukan tanpa konsekuensi. Publik pasti akan bertanya. Orang pasti akan menilai. Dan sejarah kecil akan mencatat.
Tetapi hidup memang tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Setiap orang memiliki cara pandangnya sendiri, perhitungan sendiri, dan tentu saja kepentingannya sendiri. Politik, sejak dulu hingga sekarang, selalu menjadi ruang di mana idealisme, strategi, dan kepentingan sering kali bertemu dalam bentuk yang tidak selalu mudah dipahami.
Orang tua-tua Melayu pernah berkata, “kalau tak ada berada, tak mungkin tempua bersarang rendah.” Pepatah itu mengingatkan kita bahwa di balik setiap peristiwa biasanya ada sebab yang tidak selalu tampak di permukaan.
Tugas kita barangkali bukan tergesa-gesa menghakimi, tetapi belajar membaca keadaan dengan lebih tenang. Karena dalam dunia kekuasaan, yang sering berubah bukan hanya posisi orang, tetapi juga makna dari kata-kata yang pernah mereka ucapkan.
Jadi, jangan terlalu keras , jangan menghujat, nanti malah harus menjilat ludah sendiri, dan dicap penghianat, atau seperti orang yang mengatakan lalat yang berkumpul disekitar kotoran lebih mulia dari ulama yang berkumpul diseputar kekuasaan, lalu dia sendiri kemudian lebih memilih lebih rendah dari lalat yang di katakannya itu.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

