Sisi Keseharian Nabi Muhammad SAW: Pemimpin Besar yang Tetap Sederhana
Ilustrasi. (poto/net).
Satuju.com - Banyak dari kita yang mengenal Rasulullah SAW sebagai pemimpin besar, panglima perang, atau penyampai wahyu. Namun, ada sisi humanis dan keseharian beliau yang sangat lembut, sederhana, dan bahkan penuh tawa yang jarang dibahas di mimbar-mimbar formal.
Berikut adalah gambaran keseharian beliau yang menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang paling "membumi":
1. Tukang Jahit di Rumah Sendiri
Banyak yang membayangkan seorang pemimpin besar akan dilayani sepenuhnya oleh pelayan. Namun, Sayyidah Aisyah r.a. menceritakan bahwa di dalam rumah, Rasulullah adalah pria yang mandiri.
Kegiatannya: Beliau menjahit sandalnya yang putus, menambal jubahnya yang robek dengan tangannya sendiri, memerah susu kambing, dan membantu pekerjaan dapur. Hikmah: Beliau tidak pernah merasa "terlalu tinggi" untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Beliau adalah pemimpin yang tidak merepotkan orang lain.
2. Sosok yang Gemar Bercanda (Humor yang Jujur)
Rasulullah bukan sosok yang kaku dan selalu tegang. Beliau sering bercanda dengan para sahabat dan istrinya, namun syaratnya satu: beliau tidak pernah berbohong meski saat bercanda.
Kisah Nenek Tua: Suatu kali seorang nenek bertanya apakah ia akan masuk surga. Rasulullah menjawab, "Surga tidak dimasuki oleh nenek tua." Nenek itu menangis. Beliau lalu tersenyum dan menjelaskan bahwa di surga nanti, si nenek akan berubah menjadi muda kembali.
Balap Lari: Beliau sering mengajak Aisyah balap lari di padang pasir. Kadang beliau menang, kadang Aisyah yang menang.
3. Sangat Menghargai Tamu (Hingga Memberikan Alas Duduknya)
Pernah suatu ketika, seorang pemimpin suku datang berkunjung. Karena rumah beliau tidak memiliki kursi, Rasulullah melipat jubah atau bantalnya sendiri, lalu memberikannya kepada tamu tersebut agar sang tamu tidak duduk di atas tanah yang dingin. Beliau sendiri memilih duduk di bawah.
4. Tidur di Atas Pelepah Kurma
Meski kekuasaannya meluas hingga ke seluruh Jazirah Arab, tempat tidur beliau bukanlah kasur empuk. Suatu hari, Umar bin Khattab menangis saat melihat bekas guratan pelepah kurma di punggung Rasulullah karena alas tidurnya yang sangat kasar.
Rasulullah dengan tenang bertanya, "Wahai Umar, tidakkah kau rida jika mereka (raja-raja dunia) memilih dunia, sementara kita memilih akhirat?"
5. Menghargai Pemberian yang Paling Sederhana
Beliau tidak pernah mencela makanan. Jika suka, beliau makan; jika tidak suka, beliau meninggalkannya tanpa mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati koki atau istrinya.
Beliau bahkan pernah bersabda bahwa seandainya beliau diundang untuk makan seekor kaki kambing (bagian yang paling sedikit dagingnya), beliau akan tetap datang dan menghargainya.
6. Sosok yang Paling Wangi dan Rapi
Meskipun hidup sederhana, beliau adalah orang yang sangat memperhatikan kebersihan.
Beliau selalu bersiwak (membersihkan gigi) setiap kali masuk ke rumah.
Beliau dikenal sangat menyukai wewangian (minyak wangi). Konon, jika beliau melewati sebuah jalan, orang-orang akan tahu beliau baru saja lewat dari aroma harum yang tertinggal di udara.
Pesan Indah:
Keseharian Rasulullah menunjukkan bahwa keagungan sejati bukan terletak pada seberapa banyak orang yang melayani kita, tapi seberapa besar manfaat dan kenyamanan yang kita berikan kepada orang-orang di sekitar kita.
REFERENSI:
1. Kitab Ash-Syamail Al-Muhammadiyah (Imam At-Tirmidzi)
2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
3. Kitab Al-Adab Al-Mufrad (Imam Al-Bukhari)
4. Sirah Nabawiyah (Ibnu Hisyam & Ar-Rahiq Al-Makhtum)

