Bukan Sekadar Menahan Lapar, Ini Tiga Tingkatan Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Muda tgk. Muchtar andhika

Jakarta, Satuju.com - Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, ulama besar Abu Hamid Al-Ghazali, menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan, yang masing-masing menunjukkan kualitas spiritual seorang hamba di hadapan Allah SWT.

Tingkatan pertama adalah puasa orang awam, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Secara fikih, puasa ini sudah sah. Namun, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa dimensi puasa tidak berhenti pada aspek lahiriah semata.

Tingkatan kedua adalah puasa orang khusus, yaitu ketika seseorang tidak hanya menahan perut dan syahwatnya, tetapi juga menjaga mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki dari perbuatan maksiat. Pada level ini, puasa menjadi sarana pengendalian diri secara menyeluruh.

Adapun tingkatan ketiga adalah puasa khususul khusus, yakni puasanya hati. Seseorang menjaga batinnya dari pikiran duniawi yang berlebihan dan memusatkan hati sepenuhnya kepada Allah SWT.

Inilah derajat puasa para nabi dan orang-orang saleh yang menjadikan Ramadan sebagai momentum penyucian jiwa.

Sementara itu, imam muda tgk. Muchtar Andhika dalam Dialog Ramadan di studio RRI kota Sabang, menjelaskan bahwa esensi dari seluruh tingkatan puasa tersebut bermuara pada satu tujuan utama.

“Maka dari puasa tersebut tujuan dan maksudnya sama, yaitu untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka ketika kita berpuasa yang seharusnya menjadi tolak ukur di dalam diri kita itu adalah ketakwaan kita agar bagaimana amalan yang selama kita hidupkan di bulan Ramadan ketika sudah selesai bulan Ramadan amalan tersebut terus-menerus kita lakukan,” ujarnya.

Sejalan dengan penjelasan Imam Al-Ghazali, ketakwaan inilah yang menjadi indikator keberhasilan puasa. Jika setelah Ramadan seseorang kembali pada kebiasaan lama dan meninggalkan amal saleh yang telah dibangun, maka nilai pendidikannya belum sempurna. Sebaliknya, jika ibadah seperti membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, memperbanyak sedekah, dan memperbaiki akhlak tetap istiqamah setelah Ramadan, maka itulah tanda puasa telah mencapai tujuannya.