US Dollar Index Menguat di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah, Aset Berisiko Tertekan

Ilustrasi. (poto/net).

Jakarta, Satuju.com - Pada awal perdagangan Senin (23/3/2026),  Dolar AS menguat seiring eskalasi konflik Timur Tengah yang menekan aset berisiko dan mendorong arus dana ke safe haven.

Dikutip reuters, Ketegangan meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran, sementara Teheran merespons dengan ancaman terhadap infrastruktur energi dan air di negara-negara kawasan.

“Pasar melihat bahwa negara dan ekonomi yang mendapat keuntungan dari lonjakan pasokan energi cenderung berkinerja lebih baik dibandingkan yang mengalami tekanan pasokan,” kata Rodrigo Catril dari National Australia Bank.

“Jadi Anda melihat euro dan yen kesulitan menguat. Dan jika konflik ini berlangsung lama, mata uang tersebut kemungkinan akan lebih tertekan.” Sementara itu, indeks dolar naik ke 99,53, didukung pelemahan euro ke US$1,1563 dan poundsterling ke US$1,3331. Yen bergerak terbatas di 159,11 per dolar.

Penguatan ini terjadi setelah sebelumnya dolar mencatat penurunan mingguan pertama sejak perang Iran dimulai, sebelum kembali terdorong oleh lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

Di pasar saham, tekanan langsung terlihat di Asia. Indeks Nikkei Jepang turun 3,9% dengan penurunan lebih dari 13% sepanjang Maret. Bursa Korea Selatan melemah 4,5%, sementara indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,2%. Investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian geopolitik.

Sebelumnya, Iran menyatakan akan menyerang sistem energi dan air negara-negara Teluk jika ancaman AS direalisasikan. Trump juga menekan Iran untuk membuka Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak global yang saat ini terganggu.

Di sisi lain, harga minyak bergerak fluktuatif. Brent turun tipis ke US$111,90 per barel meski masih melonjak 55% sepanjang bulan ini, sementara minyak mentah AS (WTI) berada di sekitar US$98,35 per barel.

“Perang ini masih bisa berlangsung berminggu-minggu ke depan dan mendorong harga minyak naik hingga US$150 per barel,” kata Shane Oliver dari AMP. “Kerusakan bertahap pada infrastruktur energi juga akan memperlambat pemulihan pasokan.”

Ia menambahkan lonjakan harga minyak dalam krisis sebelumnya berlangsung berbulan-bulan, seiring pasar menyesuaikan dampak penuh gangguan pasokan.

Kenaikan harga energi mulai merambat ke sektor lain. Analis HSBC mencatat harga bahan bakar jet di Singapura naik 175% tahun ini, sementara LNG di Asia meningkat 130%. Biaya bahan bakar kapal dan pupuk juga naik, meningkatkan tekanan terhadap logistik dan harga pangan.

Lonjakan harga energi mengubah ekspektasi kebijakan moneter global. Pasar mulai menghapus proyeksi penurunan suku bunga dan beralih memperkirakan pengetatan di negara maju. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,41%, mendekati level tertinggi dalam delapan bulan.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan dampak ekonomi konflik masih belum dapat dipastikan. Bank sentral utama lainnya juga menahan suku bunga, namun mengantisipasi tekanan inflasi dari kenaikan harga energi.

Di pasar komoditas, emas naik ke US$4.511 per troi ons, mencerminkan meningkatnya permintaan lindung nilai. Sementara itu, aset kripto melemah dengan bitcoin turun ke sekitar US$67.900 dan ether ke US$2.053.