Geothermal dan Ilusi Energi Bersih: Antara Transisi dan Ekstraktivisme Baru
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Jakarta, Satuju.com - Di atas kertas kebijakan global, Geothermal adalah "anak emas" transisi energi. Ia dipuja sebagai solusi tanpa karbon, energi yang memancar langsung dari rahim bumi untuk menyelamatkan iklim. Namun, ketika kita membedah realitas ini di atas meja forensik keadilan ekologi, yang kita temukan bukanlah penyelamatan, melainkan Sabotase Hidrologi dan Kanibalisme Ekologi yang sistematis.
Di balik dalih penyelamatan bumi, tersimpan narasi gelap tentang bagaimana oligarki energi merampas air, merusak hutan, dan meracuni udara rakyat kecil di kaki gunung. Inilah 4 file investigasi yang mengungkap sisi kelam Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang tak pernah masuk dalam brosur investasi mereka.
FILE 1: Sang "Vampir" Akuifer (The Aquifer Vampire)
Ada sebuah miskonsepsi yang perlu diluruskan: petani di sekitar PLTP tidak sedang disiksa oleh mesin modifikasi cuaca di langit. Mereka sedang dirampok dari bawah kaki mereka sendiri.
Untuk memutar turbin raksasanya, PLTP membutuhkan medium pembawa panas berupa jutaan ton air. Meskipun perusahaan selalu mengumandangkan mantra "injeksi ulang", hukum fisika tidak bisa berbohong—selalu ada defisit yang hilang menguap ke atmosfer. Akibatnya, sumur produksi geothermal bertindak seperti sedotan raksasa di kedalaman ekstrem yang menyedot cadangan air tanah dangkal (akuifer). Hasilnya? Mata air pegunungan mati, sumur warga mengering, dan sawah-sawah retak dalam kehausan yang permanen.
FILE 2: Pembantaian di Hulu (The Catchment Slaughter)
Ironi terbesar dari energi hijau ini adalah ia berdiri di atas puing-puing hutan primer. Sumber panas bumi terbaik Indonesia terletak tepat di jantung kawasan tangkapan air dan hutan lindung.
Demi membangun blok sumur pengeboran (well pad) dan pipa-pipa baja yang meliuk seperti ular raksasa, korporasi harus membabat "spons alami" penyimpan air. Ketika hutan di lereng gunung dibuldoser menjadi hamparan beton, kemampuan tanah menyerap hujan pun musnah. Saat kemarau tiba, sungai di hilir tak lagi mendapat kiriman air dari gunung. Kekeringan ekstrem yang dialami petani bukanlah fenomena alam, melainkan konsekuensi logis dari hilangnya benteng ekologi di hulu.
FILE 3: Mutasi Mikro-Iklim (The Micro-Climate Mutation)
PLTP mungkin tidak mengendalikan awan, tetapi mereka secara aktif menciptakan "iklim buatan" yang mematikan bagi komoditas pertanian. Menara pendingin (cooling tower) yang menderu 24 jam memuntahkan ribuan ton uap air panas ke udara setiap harinya.
Muntahan uap ini, saat bercampur dengan sisa gas belerang, menciptakan kabut asam dan kelembapan buatan yang ekstrem di area sekitar. Tanaman sensitif seperti kopi, cengkeh, dan sayuran kehilangan siklus panas matahari yang normal. Akibatnya, tanaman membusuk dan gagal berbunga. Petani dipaksa bertani di dalam laboratorium industri yang lembap dan beracun, bukan di alam yang sehat.
FILE 4: Ilusi Emisi Nol (The Toxic Venting)
Narasi bahwa geothermal adalah energi bersih tanpa emisi adalah sebuah kebohongan publik yang berbahaya. Saat perut bumi dibor hingga kedalaman 3 kilometer, yang keluar bukan sekadar uap murni, melainkan "gas-gas purba" yang mematikan.
Di balik cerobongnya, PLTP melepaskan Non-Condensable Gases (NCG) seperti Karbon Dioksida dan Metana dalam jumlah masif. Namun yang paling mengerikan adalah Hidrogen Sulfida (H2S). Gas ini bukan hanya merusak atap seng warga hingga keropos dalam hitungan bulan, tapi juga merupakan racun saraf yang instan. Tragedi keracunan massal di Sorik Marapi dan Dieng adalah bukti otentik bahwa "energi hijau" ini memiliki jejak darah yang nyata.
Kesimpulan Auditor: Ekstraktivisme Berbaju Hijau
Narasi Geothermal sebagai penyelamat iklim kini telah runtuh di meja operasi kita. Jika demi menghasilkan listrik kita harus mengeringkan mata air, membabat hutan lindung, dan membiarkan warga desa muntah darah akibat gas beracun, maka ini bukanlah transisi energi. Ini adalah Ekstraktivisme Gaya Baru.
PLTP didesain untuk menyuplai kemewahan di kota-kota besar dan memutar roda pabrik-pabrik nikel, sementara rakyat di kaki gunung dijadikan tumbal pembangunan. Mereka dibiarkan hidup dalam kegelapan, menghirup aroma belerang, dan meratapi sawah yang mati di tengah bisingnya mesin-mesin pengeboran yang tak pernah tidur.

