Panama Papers dan Republik Cangkang: Saat Pajak Rakyat Menutup Surga Uang Para Elit

Ilustrasi. (poto/net).

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com - Apa itu Panama Papers?

​Bayangkan ada sebuah bank rahasia yang memiliki gudang data raksasa berisi daftar nama orang-orang paling berkuasa di dunia. Pada April 2016, "gudang" itu jebol. Inilah yang disebut Panama Papers, bocoran 11,5 juta dokumen rahasia dari sebuah firma hukum bernama Mossack Fonseca yang bermarkas di Panama.

​Siapa yang Mengeluarkannya?

​Seorang pembocor rahasia (whistleblower) anonim menyerahkan data ini kepada surat kabar Jerman, Süddeutsche Zeitung. Karena jumlah datanya sangat masif (2,6 Terabyte), mereka bekerja sama dengan ICIJ (Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional), termasuk jurnalis Tempo dari Indonesia, untuk membedah isinya selama satu tahun penuh.

​Untuk Apa Dokumen itu Ada?

​Mossack Fonseca membantu orang-orang kaya (politisi, pengusaha, hingga selebriti) mendirikan "Perusahaan Cangkang".

​Perusahaan Cangkang adalah perusahaan yang hanya ada di atas kertas. Tidak ada kantor, tidak ada karyawan, tidak ada aktivitas bisnis.

​Tujuannya: Menyembunyikan uang agar tidak dipotong pajak di negara asal, mencuci uang hasil korupsi/suap agar terlihat "bersih", dan yang paling utama: Menyembunyikan nama pemilik aslinya.

​CATATAN FORENSIK: DARI PANAMA HINGGA KE DOMPET ANDA

​Sekarang, mari kita bedah bagaimana "permainan" para elit di Panama ini berhubungan langsung dengan nasib ekonomi Anda yang kian terjepit.

​BAGIAN I: REPUBLIK PERUSAHAAN CANGKANG

​Di dalam daftar tersebut, kita menemukan wajah-wajah familiar dari Indonesia: menteri, ketua lembaga negara, politisi, hingga buronan kelas kakap. Mereka bicara tentang "Nasionalisme" di depan kamera, tapi memarkir hartanya di wilayah tak berpajak seperti British Virgin Islands (BVI).

​Anjing Penjaga yang Ikut Mencuri: Salah satu yang paling ironis adalah munculnya nama petinggi lembaga audit negara (BPK). Ini adalah penghinaan terhadap logika. Bagaimana mungkin orang yang bertugas mengawasi kebocoran uang rakyat justru memiliki perusahaan rahasia di luar negeri?

​Koalisi Rahasia Para Elit: Di televisi, politisi dari berbagai partai terlihat saling serang. Namun di Panama, mereka bersatu dalam satu wadah: Partai Pemilik Modal. Tidak ada oposisi di sana; yang ada hanyalah kolaborasi untuk mengamankan harta dari jangkauan hukum Indonesia.

​Karpet Merah untuk Harta Gelap: Alih-alih dihukum, pemerintah justru memberikan "Pengampunan Pajak" (Tax Amnesty). Para elit ini hanya perlu membayar denda kecil untuk membuat harta gelap mereka menjadi legal dan "halal" seketika.

​BAGIAN II: ROBIN HOOD TERBALIK (PEMERASAN KELAS MENENGAH)

​Ketika negara gagal mengejar triliunan rupiah milik para oligarki yang diparkir di Panama, negara harus mencari sumber uang lain untuk menambal anggaran. Sasarannya? Bukan lagi mereka yang di atas, tapi Anda.

​PPN 12% (Pisau Bermata Dua): Pemerintah menaikkan pajak belanja. PPN adalah pajak yang "buta". Ia tidak peduli Anda orang kaya atau buruh lepas. Saat Anda membeli sabun atau pulsa, Anda membayar pajak yang sama. Bagi kelas menengah, ini adalah perampokan daya beli secara perlahan.

​Mutilasi Slip Gaji: Pekerja kantoran adalah sasaran empuk karena gaji mereka dipotong otomatis sebelum uangnya sempat dipegang. Pajak Penghasilan (PPh 21), BPJS, hingga iuran wajib lainnya dipotong paksa. Negara menyebutnya "jaminan", tapi faktanya uang tersebut digunakan untuk menambal kas negara yang bocor.

​Jebakan Kelas Menengah: Anda adalah kelompok yang paling menderita. Anda tidak cukup miskin untuk mendapatkan bantuan sosial (BLT), tapi tidak cukup kaya untuk mendapatkan pengampunan pajak atau fasilitas mewah. Anda adalah "donatur" utama negara yang dipaksa membiayai gaya hidup para elit.

​UMKM yang Dikepung: Setelah pekerja diperas, kini warung-warung kecil dan pedagang online mulai dikejar radar pajak. Padahal, perusahaan tambang raksasa seringkali mendapatkan kebebasan pajak (Tax Holiday) hingga puluhan tahun.

​KESIMPULAN: NEGARA SEBAGAI RUMAH PEMOTONGAN FISKAL

​Hukum kita saat ini bekerja layaknya jaring laba-laba: Cukup kuat untuk menjerat lalat kecil (rakyat biasa), tapi akan hancur berantakan ditabrak oleh burung elang (oligarki).

​Rencana pembukaan "kantor pengelola kekayaan keluarga" (Family Office) di Bali adalah puncak dari drama ini. Para oligarki kini tidak perlu lagi jauh-jauh ke Panama; negara sudah menyiapkan "surga pajak" sendiri di dalam negeri agar uang mereka tetap aman, rahasia, dan tanpa pajak.

​Sementara itu, Anda diminta untuk terus "bersyukur" dan tetap taat membayar pajak, meskipun dompet Anda sudah dimutilasi sampai ke titik nadir.