Sosiolog UI Soroti Fenomena Penguasa Jadi Pengusaha, Civil Society Dinilai Kian Melemah
Sosiolog Francisia Saveria Sika Ery Seda. (poto/ist)
Jakarta, Satuju.com - Sosiolog Francisia Saveria Sika Ery Seda menyoroti fenomena semakin kaburnya batas antara kekuasaan dan kepentingan bisnis yang terjadi di Indonesia maupun sejumlah negara lain.
Dalam pandangannya, pola yang kini banyak terjadi adalah penguasa merangkap menjadi pengusaha, sementara pengusaha juga masuk ke lingkaran kekuasaan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi melahirkan kolusi yang melemahkan peran masyarakat sipil atau civil society.
“Yang terjadi sekarang di Indonesia dan di negara-negara lain, pola umumnya adalah penguasa jadi pengusaha, pengusaha jadi penguasa,” ujar Prof. Francisia.
Ia menjelaskan, dalam relasi antara negara, pasar, dan masyarakat, seharusnya terdapat keseimbangan agar demokrasi berjalan sehat. Namun, ketika negara dan pasar terlalu dekat karena kepentingan tertentu, masyarakat sipil justru menjadi pihak yang paling lemah.
Menurutnya, civil society saat ini bukan hanya melemah, tetapi juga mengalami proses pelemahan secara sistematis akibat praktik kolusi yang terjadi di berbagai sektor.
“Dalam konteks relasi triangulasi antara negara, pasar, dan masyarakat, masyarakat sipil ini menjadi lemah dan dilemahkan karena kolusi,” katanya.
Prof. Francisia menilai kondisi tersebut bertentangan dengan prinsip demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang sehat. Ia menegaskan bahwa masyarakat sipil memiliki peran penting sebagai pengawas kekuasaan dan penyeimbang kebijakan negara.
Fenomena kedekatan elite kekuasaan dengan kepentingan bisnis, lanjutnya, dapat memunculkan konflik kepentingan yang berdampak pada kebijakan publik, distribusi sumber daya, hingga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Pernyataan tersebut pun menjadi perhatian publik karena dianggap menggambarkan tantangan besar demokrasi modern, khususnya terkait independensi negara dan kekuatan masyarakat sipil dalam mengawasi jalannya pemerintahan.
