Rp17.500 per Dolar AS: Trauma Lama dan Realita Baru Ekonomi Indonesia
Ilustrasi Trauma Lama dan Realita Baru Ekonomi Indonesia. (poto AI)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Angka Rp17.500 per Dolar AS akhirnya terpampang di layar perdagangan. Bagi sebagian orang, angka ini memicu alarm peringatan yang mengingatkan kita pada memori kelam krisis moneter 1998 di era Soeharto. Namun, sebelum terjebak dalam nostalgia ketakutan, kita perlu membedah realita ekonomi yang ada secara lebih jernih.
Trauma 1998: Sebuah Serangan Jantung Ekonomi
Pada masa akhir jabatan Presiden Soeharto, angka Rp16.000 hingga Rp17.000 adalah sebuah "serangan jantung". Bayangkan, hanya dalam waktu kurang dari setahun, nilai Rupiah hancur dari Rp2.500 menjadi belasan ribu. Penurunan lebih dari 500% ini terjadi karena fondasi ekonomi dalam negeri yang rapuh, utang swasta yang tak terkendali, dan sistem perbankan yang keropos. Saat itu, angka 17.000 berarti kebangkrutan massal, inflasi yang meledak hingga 70%, dan kelangkaan bahan pokok di mana-mana.
Realita 2026: Berlayar di Tengah Badai Global
Hari ini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, angka Rp17.500 muncul dalam konteks yang sangat berbeda. Pelemahan ini bukanlah "penyakit dalam" seperti di masa lalu, melainkan dampak dari badai ekonomi global yang menghantam hampir seluruh mata uang dunia.
Pemicu utamanya adalah kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral Amerika Serikat yang terus menyedot modal keluar dari negara berkembang, ditambah dengan ketegangan geopolitik yang memanaskan harga energi. Bedanya, kali ini Indonesia memiliki "baju pelindung" yang jauh lebih kuat. Cadangan devisa kita masih kokoh, perbankan nasional memiliki modal yang sangat sehat, dan sistem pengawasan keuangan jauh lebih transparan dibandingkan era Orde Baru.
Beda Angka, Beda Daya Tahan
Meskipun angka nominalnya terlihat lebih buruk yaitu Rp17.500 dibanding Rp16.000 di masa Soeharto daya tahan ekonomi kita saat ini justru berkali-kali lipat lebih stabil. Depresiasi yang terjadi saat ini bersifat gradual atau bertahap, bukan jatuh bebas dalam semalam. Inilah yang membuat aktivitas pasar tetap berjalan, pasokan barang di supermarket tetap terjaga, dan tidak terjadi kepanikan massal seperti penjarahan atau antrean sembako berkepanjangan.
Tantangan bagi pemerintah sekarang memang berat: menjaga agar kenaikan kurs ini tidak memicu kenaikan harga barang impor yang membebani rakyat kecil. Namun, membandingkan Rp17.500 hari ini dengan krisis '98 adalah perbandingan yang tidak apel-ke-apel. Kita tidak sedang menuju kebangkrutan, melainkan sedang diuji untuk tetap tegak di tengah ketidakpastian dunia.
Kuncinya kini ada pada bagaimana kebijakan fiskal dan moneter saling bahu-membahu menjaga daya beli masyarakat tetap aman, meskipun Dolar sedang perkasa.
