AS Kembali Serang Target Drone Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Memanas
Ilustrasi. (poto/net).
Jakarta, Satuju.com - Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap target yang disebut berkaitan dengan operasi drone Iran di kawasan Selat Hormuz. Aksi tersebut menambah ketegangan di jalur pelayaran strategis dunia yang sebelumnya sempat diwarnai upaya gencatan senjata antara kedua negara.
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan kepada Reuters pada Rabu (27/5), bahwa militer AS menembak jatuh empat drone serang milik Iran. Selain itu, pasukan AS juga menyerang stasiun kendali darat di kota pelabuhan Bandar Abbas yang diduga akan digunakan untuk meluncurkan drone kelima.
Menurut pejabat tersebut, langkah militer itu dilakukan sebagai tindakan defensif guna menjaga stabilitas dan mempertahankan gencatan senjata yang telah berlangsung sejak awal April lalu.
“Tindakan ini terukur, murni defensif dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata,” ujarnya.
Di sisi lain, media Iran memberikan versi berbeda terkait insiden tersebut. Kantor berita Tasnim mengutip sumber militer yang menyebut Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran sempat menembaki sebuah kapal tanker minyak AS yang mencoba melintas di Selat Hormuz hingga memaksanya berbalik arah.
Sumber yang sama menyebut militer AS kemudian melancarkan serangan ke area terbuka di sekitar Bandar Abbas. Namun, tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut.
Ketegangan kembali meningkat setelah media Iran melaporkan empat kapal mencoba melintasi selat pada Kamis (28/5) pagi, namun dipaksa kembali setelah tembakan peringatan dilepaskan ke arah mereka.
Sebelumnya, militer AS juga melakukan serangan di wilayah Iran selatan pada Senin lalu. Washington menyebut operasi itu sebagai langkah defensif, sementara Teheran menilainya sebagai “pelanggaran berat” terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Situasi memanas setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan televisi pemerintah Iran yang menyebut kedua negara hampir mencapai kesepakatan untuk memulihkan lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Dalam rapat kabinet yang dihadiri media pada Rabu, Trump menegaskan bahwa tidak ada negara yang akan mengendalikan jalur perairan tersebut.
“Tidak ada yang akan mengendalikan selat itu. Ini adalah perairan internasional,” kata Trump.
Trump bahkan melontarkan ancaman terhadap Oman, negara yang disebut dalam laporan Iran akan turut mengelola lalu lintas pelayaran bersama Teheran.
“Oman akan bertindak seperti negara lain atau kita harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut memicu perhatian internasional mengingat Oman selama ini dikenal memiliki hubungan diplomatik dan kerja sama militer yang cukup dekat dengan AS.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi terhadap Otoritas Selat Teluk Persia, lembaga Iran yang dibentuk untuk mengelola jalur pelayaran di Selat Hormuz. Washington menilai badan tersebut menimbulkan ancaman terhadap keamanan nasional AS.
Sementara itu, pejabat Iran menegaskan bahwa tekanan dan ancaman dari AS tidak akan membuat Teheran mundur dari tuntutannya, termasuk terkait hak memperkaya uranium, penguasaan jalur strategis Selat Hormuz, serta pencabutan sanksi ekonomi.
Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyebut Trump sedang berada dalam kebuntuan strategi dan menggunakan kombinasi ancaman serta ajakan negosiasi.
“Jelas sekali bahwa Trump, yang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini, bergantian antara mengeluarkan ancaman dan menyerukan kesepakatan,” tulis Azizi melalui akun X.
Perang yang berlangsung selama tiga bulan terakhir itu dilaporkan telah menewaskan ribuan orang dan memicu lonjakan harga energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital dunia yang sebelumnya menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global.
