Keuangan BLJ Bengkalis 2023 Disorot, Laba Rp593 Miliar Ditopang Dana PI Migas

Ilustrasi Keuangan BLJ Bengkalis 2023 Disorot, Laba Rp593 Miliar Ditopang Dana PI Migas. (poto AI)

Laporan keuangan BLJ Bengkalis 2023 menuai sorotan. Laba Rp593 miliar didominasi dana PI migas, sementara investasi media dipertanyakan.

BENGKALIS, Satuju.com - Laporan keuangan PT Bumi Laksamana Jaya (BLJ) tahun buku 2023 menjadi sorotan publik setelah sejumlah temuan memunculkan pertanyaan terkait struktur laba, investasi, hingga tata kelola perusahaan milik daerah tersebut. BACA BERITA TERKAIT: https://www.satuju.com/berita/14831/investasi-janggal-hingga-aset-zombie-terkuak-kinerja-dan-tata-kelola-pt-blj-bengkalis-hingga-temuan-bpk-disorot.html

Berdasarkan laporan keuangan, total aset BLJ per 31 Desember 2023 tercatat mencapai Rp985,2 miliar. Angka itu meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp389,5 miliar.

Namun di balik lonjakan aset tersebut, kinerja operasional perusahaan justru menunjukkan kondisi berbeda. BLJ membukukan pendapatan usaha sebesar Rp48,5 miliar, sementara beban pokok pendapatan mencapai Rp48,7 miliar. Kondisi ini menunjukkan aktivitas usaha utama perusahaan mengalami rugi operasional.

Meski demikian, BLJ tetap mencatat laba sebesar Rp593,9 miliar. Sebagian besar keuntungan tersebut berasal dari pos pendapatan lain-lain senilai Rp596,2 miliar yang didominasi dana Participating Interest (PI) migas, bukan dari kegiatan bisnis inti perusahaan.

Fakta itu memunculkan pertanyaan mengenai tingkat ketergantungan perusahaan terhadap pendapatan non-operasional dalam menopang laba tahunan.

Selain itu, perhatian juga tertuju pada investasi BLJ di dua perusahaan media, yakni PT SJTV sebesar Rp247,5 juta dan PT Gelora Melayu Pers sebesar Rp200 juta. Investasi tersebut dinilai tidak memiliki keterkaitan langsung dengan sektor usaha utama BLJ yang bergerak di bidang energi, perdagangan, jasa, dan logistik.

Sorotan semakin menguat setelah muncul informasi dari seorang narasumber yang mengaku mantan karyawan PT SJTV. Ia menyebut perusahaan tersebut diduga sudah tidak beroperasi sejak 2010.

"Berani investasi atas nama PT SJTV luar biasa, Bahaye tu, Jelas - jelas SJTV tutup 2010, Bukan sedikit tu, di BLJ kan ada ada mantan di SJTV, Terang terangan dia tahu, Nanti 'Terkencing-kencing' kalau sudah kena panggil," jelas narasumber yang juga mantan karyawan PT SJTV.

Meski disebut tidak aktif, dalam laporan keuangan 2023 investasi pada PT SJTV masih tercatat sebesar Rp247,5 juta. Tidak hanya itu, PT SJTV juga tercatat memiliki piutang kepada BLJ sebesar Rp588,8 juta. Sementara PT Gelora Melayu Pers memiliki piutang kepada BLJ senilai Rp1,048 miliar.

Kondisi tersebut dinilai tidak lazim karena BLJ berstatus sebagai investor pada kedua perusahaan tersebut, tetapi pada saat yang sama memiliki kewajiban yang tercatat dalam bentuk piutang kepada entitas yang menerima investasinya.

Dalam praktik akuntansi, perusahaan yang tidak lagi beroperasi umumnya memerlukan penyesuaian nilai investasi atau penghentian pengakuan aset. Karena itu, pencatatan investasi pada perusahaan yang diduga tidak aktif memunculkan dugaan adanya aset yang tidak produktif.

Laporan keuangan juga mengungkap bahwa manajemen belum melakukan penyisihan terhadap sejumlah aset keuangan jangka panjang maupun piutang yang berpotensi bermasalah meski nilainya mencapai miliaran rupiah. Kondisi tersebut berpotensi membuat nilai aset terlihat lebih tinggi dibandingkan kondisi sebenarnya.

Selain itu, sebagian data investasi dan piutang masih menggunakan pencatatan lama sejak 2013 dan disebut memerlukan audit lanjutan. Beberapa aset bahkan dikaitkan dengan perkara hukum serta penyitaan oleh negara, namun belum dilakukan penyesuaian nilai dalam laporan keuangan.

Sorotan terhadap BLJ semakin kuat setelah Pemerintah Kabupaten Bengkalis pada 2024 menambah penyertaan modal sebesar Rp22,93 miliar. Di sisi lain, target pendapatan daerah dari BLJ yang diproyeksikan sekitar Rp770 miliar hanya terealisasi sekitar Rp53 miliar atau 6,89 persen.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai akurasi perencanaan keuangan, transparansi pengelolaan dana PI migas, serta efektivitas pengelolaan BUMD dalam memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah.

Hingga berita ini ditulis, upaya konfirmasi kepada Direktur BLJ Abdul Rahman melalui pesan WhatsApp belum mendapat tanggapan. Manager Humas BLJ, Elmiawati Safarina, juga belum memberikan respons atas permintaan konfirmasi yang dikirimkan.

Minimnya penjelasan dari pihak perusahaan mendorong munculnya desakan agar dilakukan audit menyeluruh terhadap investasi, aset, dan pengelolaan keuangan BLJ. Sejumlah pihak juga meminta evaluasi terhadap penyertaan modal daerah serta peninjauan kembali investasi yang dinilai tidak produktif.

Publik kini menanti penjelasan mengenai dasar investasi BLJ pada perusahaan media, manfaat ekonomi yang dihasilkan dari investasi tersebut, mekanisme munculnya piutang dengan perusahaan yang menerima investasi, serta alasan investasi pada perusahaan yang diduga tidak aktif masih tercatat dalam laporan keuangan hingga tahun buku 2023.


BERITA TERKAIT