Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga, Unilak Bagikan 10 Komposter untuk Warga Rumbai Barat

Saat Penyerahan Komposter secara simbolik kepada 10 Ibu Rumah Tangga (poto/ist)

Unilak menyerahkan 10 komposter kepada warga Rumbai Barat untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk cair bernilai ekonomi dan mendukung ekonomi hijau.

PEKANBARU, Satuju.com - Program Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga terus didorong Universitas Lancang Kuning (Unilak) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Tim dosen Program Studi Magister Ilmu Lingkungan menyerahkan 10 unit ember komposter kepada kelompok ibu rumah tangga di Kelurahan Agrowisata, Kecamatan Rumbai Barat, Pekanbaru, sebagai upaya mengurangi sampah sekaligus menghasilkan pupuk cair bernilai ekonomi.

Penyerahan komposter berlangsung pada Selasa dan menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan kemampuan warga mengelola sampah organik secara mandiri serta mendukung penerapan ekonomi hijau di tingkat rumah tangga.

Ketua Tim PKM, Dr. M. Rawa El Amady, M.A., menegaskan pengelolaan sampah tidak lagi sekadar berakhir di tempat pembuangan, tetapi harus mampu memberi manfaat bagi masyarakat.

"Pada hari ini Tim PKM Magister Ilmu Lingkungan Universitas Lancang Kuning menyerahkan 10 ember komposter kepada kelompok ibu-ibu rumah tangga sebagai sarana mengolah sampah organik menjadi pupuk lindi atau pupuk cair organik. Kami berharap teknologi sederhana ini dapat membantu masyarakat mengurangi sampah sekaligus menghasilkan pupuk yang dapat dimanfaatkan sendiri maupun dijual sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi keluarga," ujarnya.

Menurut Rawa El Amady, pupuk lindi hasil fermentasi sampah organik dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman pekarangan seperti cabai, sayuran, buah, hingga tanaman hias. Jika produksinya meningkat, pupuk cair tersebut juga berpotensi menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Ia menjelaskan teknologi komposter yang diperkenalkan cukup sederhana dan mudah diterapkan. Warga hanya memasukkan sampah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, daun, dan sisa makanan ke dalam ember komposter. Selanjutnya, setiap pekan cukup menambahkan sekitar tiga sendok gula untuk mempercepat proses fermentasi.

"Teknologi ini murah, mudah dipelajari, tidak membutuhkan listrik maupun mesin, sehingga sangat cocok diterapkan di tingkat rumah tangga," jelasnya.

Selain menyerahkan komposter, Tim PKM juga memberikan penyuluhan mengenai konsep ekonomi hijau. Materi disampaikan oleh Dr. Anto Ariyanto, M.Si., yang mengajak masyarakat mengubah pola konsumsi dan memandang sampah sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dikelola secara berkelanjutan.

Sebagai pelengkap kegiatan, Dr. Ervayendri, M.Si., menyerahkan bibit tanaman mangga dan jeruk kepada peserta. Bibit tersebut diharapkan dapat memanfaatkan pupuk organik hasil komposter sekaligus mendukung penghijauan lingkungan dan ketahanan pangan keluarga.

Program ini menjadi implementasi tridarma perguruan tinggi yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Tim PKM berharap Kelurahan Agrowisata dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis rumah tangga yang mampu mengurangi timbunan sampah, memperkuat ekonomi hijau, serta menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.