Trump Blunder Lagi

Poto Ai hanya ilustrasi, Trump Blunder Lagi.(poto/ist/Ahmadie Thaha)

Opini Ahmadie Thaha (Cak AT) mengulas keputusan Donald Trump mengakhiri MoU dengan Iran, konflik Selat Hormuz, dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Oleh: Ahmadie Thaha (Cak AT)
Ma'had Tadabbur al-Qur'an

Satuju.com - Ada pepatah tua dalam dunia diplomasi: kesalahan terbesar bukanlah memulai perang, melainkan mengira perang akan menyelesaikan persoalan. Di Timur Tengah, pepatah itu kembali menemukan pembuktiannya. Amerika Serikat tampaknya sedang mengulangi blunder yang sama, mengira bom dapat menggantikan diplomasi.

Sebuah memorandum of understanding (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang semula dipromosikan sebagai pintu menuju perdamaian dan stabilitas bahkan belum sempat membangun kepercayaan. Baru sekitar tiga pekan setelah disepakati, Donald Trump menyatakan kesepakatan itu telah berakhir.

Bagi saya, keputusan tersebut bukan sekadar perubahan arah kebijakan luar negeri. Langkah itu justru berpotensi menjadi blunder strategis karena mendorong Iran memainkan kartu tawar terbesarnya, yakni Selat Hormuz.

Di sinilah konflik berubah wajah. Persoalannya tidak lagi hanya menyangkut nuklir Iran atau dominasi militer Amerika Serikat, melainkan menyentuh salah satu urat nadi ekonomi dunia.

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut. Hampir seperlima perdagangan minyak dunia dan sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) melintasi kawasan ini setiap hari. Gangguan sekecil apa pun dapat memicu lonjakan harga energi, biaya logistik, hingga inflasi global.

Dalam pandangan saya, perang modern tidak lagi dimenangkan hanya dengan pesawat tempur atau rudal. Kepercayaan pasar, stabilitas perdagangan, dan kelancaran distribusi energi kini menjadi bagian penting dari medan pertempuran.

Ironisnya, kartu strategis Iran itu juga mengandung risiko besar bagi negaranya sendiri. Gangguan di Selat Hormuz dapat menekan ekspor minyak Iran dan memperberat kondisi ekonomi domestik yang telah lama terdampak sanksi internasional.

Karena itu, tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan apabila konflik terus meningkat. Amerika Serikat menghadapi risiko kehilangan kredibilitas diplomatik, sementara Iran juga harus menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

Pada akhirnya, konflik ini menunjukkan bahwa diplomasi seharusnya tidak diperlakukan sebagai jeda untuk mempersiapkan perang berikutnya. Perdamaian hanya dapat bertahan apabila setiap pihak menghormati komitmen yang telah disepakati.

Selat Hormuz hari ini bukan hanya jalur kapal tanker. Ia telah menjadi cermin rapuhnya stabilitas geopolitik dunia sekaligus pengingat bahwa kemenangan militer belum tentu berakhir sebagai kemenangan strategis.

Dan sejarah berulang kali mengajarkan, bom memang mampu menghancurkan pelabuhan, tetapi tidak pernah berhasil membangun kepercayaan.

Ahmadie Thaha (Cak AT)
Ma'had Tadabbur al-Qur'an
13 Juli 2026