PHK Tembus 32 Ribu Orang Sepanjang Januari-Juni 2026, Jawa Barat Paling Banyak
Ilustrasi PHK. (poto/net)
Jakarta, Satuju.com – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 32.389 pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) selama periode Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan angka PHK tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan data yang dirilis melalui laman Satu Data Ketenagakerjaan, Jawa Barat mencatat 6.727 pekerja terdampak PHK atau setara 20,77 persen dari total kasus PHK yang dilaporkan secara nasional.
"Tenaga kerja ter-PHK pada periode ini paling banyak terdapat di Provinsi Jawa Barat yaitu sekitar 20,77 persen dari total tenaga kerja ter-PHK yang dilaporkan," tulis Kemnaker dalam keterangannya, dikutip Sabtu (18/7/2026).
Setelah Jawa Barat, Provinsi Banten menempati posisi kedua dengan 3.782 pekerja terdampak PHK. Posisi berikutnya diisi Jawa Timur sebanyak 2.851 pekerja, disusul DKI Jakarta dengan 2.436 pekerja, serta Kalimantan Selatan yang mencatat 2.314 pekerja terkena PHK.
Berikut lima provinsi dengan jumlah PHK tertinggi selama semester pertama 2026:
Jawa Barat: 6.727 pekerja
Banten: 3.782 pekerja
Jawa Timur: 2.851 pekerja
DKI Jakarta: 2.436 pekerja
Kalimantan Selatan: 2.314 pekerja
Kemnaker menjelaskan, data tersebut hanya mencakup pekerja yang benar-benar mengalami pemutusan hubungan kerja. Sementara pekerja yang berhenti karena mengundurkan diri, memasuki masa pensiun, mengalami cacat total tetap, maupun meninggal dunia tidak masuk dalam perhitungan statistik PHK.
Ketentuan tersebut mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) serta Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 2 Tahun 2025 mengenai Tata Cara Pemberian Manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan.
Data Kemnaker ini menjadi gambaran kondisi ketenagakerjaan nasional pada semester pertama 2026 sekaligus menjadi perhatian pemerintah dalam memperkuat upaya perlindungan pekerja serta menjaga stabilitas pasar tenaga kerja di tengah tantangan ekonomi.
