Tekan Pernikahan Dini, Tim KKN Undip Edukasi Remaja Desa Mojo soal Kesehatan dan Kesiapan Berkeluarga
Tim KKN Undip Edukasi Remaja Desa Mojo soal Kesehatan dan Kesiapan Berkeluarga
Kendal Satuju.com – Meningkatnya angka pernikahan dini di Desa Mojo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, mendorong Tim II Kuliah Kerja Nyata Reguler (KKN-R) Universitas Diponegoro (Undip) menghadirkan gerakan edukasi berbasis masyarakat.
Program tersebut menyasar remaja, orang tua, dan masyarakat dengan mengangkat sejumlah aspek yang berkaitan dengan kesiapan membangun keluarga, mulai dari kesiapan psikologis, kesehatan gigi dan mulut, kualitas air bersih, hingga pencegahan stunting.
Dosen Pembimbing KKN, Dyah Wijaningsih, S.H., M.H., mengatakan rangkaian sosialisasi dilaksanakan di Balai Desa Mojo pada Jumat (24/7/2026). Program tersebut mendapat dukungan DIKTI SAINTEK Berdampak dan disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat setempat.
"Melalui rangkaian sosialisasi, mahasiswa mengajak remaja, orang tua, serta masyarakat memahami hubungan erat antara kesiapan psikologis, kesehatan gigi dan mulut, kualitas air bersih, serta pencegahan stunting sebagai fondasi membangun keluarga sehat," kata Dyah, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, edukasi tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga dikemas dalam bentuk diskusi, demonstrasi, serta penggunaan media edukasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.
Soroti Risiko Pernikahan Dini
Perhatian utama Tim II KKN-R Undip tertuju pada tren pernikahan dini yang dinilai semakin meningkat di Desa Mojo. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pernikahan pada usia anak dapat memberikan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan.
Data Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 6,92 persen perempuan berusia 20–24 tahun pada 2023 menikah sebelum berusia 18 tahun. Indonesia juga masih menghadapi tantangan perkawinan anak sebagai salah satu persoalan sosial di kawasan Asia Tenggara.
Tim KKN menilai dampak pernikahan dini tidak hanya berkaitan dengan usia, tetapi juga kesiapan mental dan kesehatan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah risiko gangguan kesehatan mental yang dapat dialami remaja yang memasuki kehidupan rumah tangga sebelum memiliki kesiapan psikologis.
"Kami melihat tren pernikahan dini di Desa Mojo justru meningkat, sehingga kami mengangkat tema tersebut agar warga, khususnya remaja, memahami bahwa pernikahan bukan hanya memerlukan kesiapan usia, melainkan juga kesiapan psikologis dan kesehatan fisik," ujar tim penyusun.
Melalui sosialisasi bertajuk "Siap Sehat, Siap Menikah: Kesehatan Psikologis dan Gigi-Mulut sebagai Bekal Cegah Pernikahan Dini di Desa Mojo", mahasiswa memberikan pemahaman mengenai berbagai konsekuensi yang dapat muncul ketika seseorang memasuki kehidupan rumah tangga tanpa kesiapan mental.
Materi yang disampaikan mencakup tekanan emosional, beban peran baru, risiko putus sekolah, isolasi sosial, hingga potensi gangguan kesehatan jiwa dalam jangka panjang.
Kesehatan Gigi dan Mulut Jadi Bagian Edukasi
Mahasiswa juga memperluas pemahaman masyarakat mengenai kesiapan menikah melalui edukasi kesehatan gigi dan mulut.
Kebersihan rongga mulut diperkenalkan sebagai bagian dari kesehatan umum yang dapat memengaruhi kualitas hidup individu maupun keluarga. Peserta mendapatkan edukasi mengenai kebiasaan menjaga kebersihan gigi, pentingnya pemeriksaan secara berkala, serta hubungan kesehatan mulut dengan kondisi tubuh secara keseluruhan.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Tim II KKN-R Undip memasang poster di Balai Desa Mojo. Mahasiswa juga membagikan leaflet kepada peserta agar materi dapat dipelajari kembali bersama keluarga di rumah.
Edukasi Air Bersih untuk Cegah Stunting
Gerakan pencegahan pernikahan dini kemudian dipadukan dengan edukasi kualitas air bersih dan pencegahan stunting melalui kegiatan bertajuk "Stop Pernikahan Dini Berbasis Komunitas Remaja Desa Mojo Ramah Anak".
Kegiatan yang berlangsung pada malam hari tersebut membahas pentingnya air layak konsumsi bagi kesehatan keluarga dan tumbuh kembang anak.
Mahasiswa menjelaskan bahwa kualitas air rumah tangga berkaitan dengan risiko penyakit infeksi dan gangguan pencernaan yang dapat menghambat pertumbuhan anak. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan stunting.
Edukasi disampaikan secara interaktif dengan memperkenalkan karakteristik air bersih dan potensi pencemaran di lingkungan rumah. Peserta juga dikenalkan dengan sejumlah parameter kualitas air, seperti warna, bau, kekeruhan, suhu, tingkat keasaman atau pH, serta kandungan zat terlarut.
Menariknya, peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori. Mahasiswa juga melakukan demonstrasi pengujian kualitas air menggunakan alat pengukur pH dan Total Dissolved Solid (TDS).
Warga diajak menyaksikan secara langsung proses pengujian sampel air Balai Desa sekaligus mempelajari cara membaca hasil pengukuran.
Untuk memperluas manfaat program, mahasiswa menyediakan leaflet berisi panduan sederhana mengenai kualitas air bersih, cara menjaga kebersihan sumber air, serta kaitannya dengan upaya pencegahan stunting.
Dukung SDGs
Rangkaian kegiatan tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi kesehatan psikologis, kesehatan gigi dan mulut, pencegahan stunting, serta kualitas air.
Program ini juga mendukung SDG 5 tentang Kesetaraan Gender melalui upaya pencegahan perkawinan anak dan SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui peningkatan literasi masyarakat mengenai kualitas air.
"Kami berharap poster dan leaflet dapat terus menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa pernikahan dini membawa konsekuensi besar terhadap kesehatan psikologis maupun kesehatan fisik. Kesadaran tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya keputusan yang lebih matang sebelum memasuki kehidupan berkeluarga," tulis tim penyusun.
Melalui pendekatan lintas bidang yang menghubungkan isu psikologis, kesehatan, lingkungan, dan pembangunan keluarga, Tim II KKN-R Undip berupaya menunjukkan bahwa pencegahan pernikahan dini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Program tersebut diharapkan dapat mendorong tumbuhnya generasi muda Desa Mojo yang lebih sehat, memiliki kesiapan menghadapi masa depan, serta mampu membangun keluarga berkualitas sebagai bagian dari pembangunan desa yang berkelanjutan.
