17 Agustus Bukan Sekadar Upacara, JATAM Kaltim dan Mahasiswa Serukan “Merdeka dari Kecanduan Batu Bara”

JATAM Kaltim dan Mahasiswa Serukan “Merdeka dari Kecanduan Batu Bara”

Samarinda, Satuju.com – Peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Samarinda, Kalimantan Timur, pewarnaan aksi menyampaikan pesan kritis mengenai masalah lingkungan dan pertambangan batu bara.

Pada 17 Agustus 2026, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur bersama sejumlah mahasiswa membentangkan sebuah spanduk berukuran besar di kawasan flyover Samarinda. Spanduk tersebut memuat tulisan tegas, “MERDEKA DARI KECANDUAN BATU BARA!”

Pesan tersebut menjadi bentuk kritik terhadap pemaknaan kemerdekaan yang dinilai tidak cukup hanya diwujudkan melalui upacara dan seremoni tahunan. Bagi kelompok yang terlibat dalam aksi tersebut, kemerdekaan juga harus dimaknai sebagai kebebasan masyarakat dari berbagai bentuk eksploitasi yang berdampak terhadap lingkungan dan ruang hidup.

Kemerdekaan dan Persoalan Lingkungan

Momentum 17 Agustus dipilih untuk menyampaikan pesan bahwa kemerdekaan yang dirasakan masyarakat seharusnya tidak berhenti pada hari raya simbolik. Mereka menilai, persoalan lingkungan dan dampak kegiatan pertambangan masih menjadi tantangan yang harus mendapat perhatian.

Bentangan spanduk di ruang publik tersebut menjadi simbol keresahan terhadap aktivitas eksploitasi sumber daya alam, khususnya batu bara, yang selama ini menjadi salah satu komoditas penting di Kalimantan Timur.

Dalam pesan yang disampaikan, JATAM Kaltim dan mahasiswa menyerap kembali makna kemerdekaan ketika tanah terus dikeruk, ruang hidup masyarakat terdampak, dan permasalahan lingkungan masih menjadi beban yang harus ditanggung warga.

Bagi mereka, kemerdekaan seharusnya juga berarti masyarakat memiliki hak untuk hidup dalam lingkungan yang aman, sehat dan berkelanjutan.

“Merdeka dari Kecanduan Batu Bara”

Slogan “Merdeka dari Kecanduan Batu Bara!” menjadi inti pesan yang ingin disampaikan. Istilah tersebut digunakan sebagai kritik terhadap kemandirian pembangunan dan perekonomian pada industri batu bara.

JATAM Kaltim dan mahasiswa mendorong agar peringatan kemerdekaan menjadi momentum untuk menyalakan kembali arah pengelolaan sumber daya alam. Menurut pesan aksi tersebut, kekayaan alam seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa harus mengorbankan lingkungan dan keberlangsungan ruang hidup.

Kalimantan Timur sendiri merupakan salah satu wilayah penting dalam industri batu bara nasional. Oleh karena itu, isu mengenai dampak pertambangan menjadi bagian dari memuat publik terkait lingkungan, tata ruang, dan masa depan pembangunan daerah.

Kemerdekaan Harus Dirasakan Rakyat

Aksi tersebut membawa gagasan bahwa kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan secara politik, namun juga harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika masyarakat masih menghadapi dampak kerusakan lingkungan, kehilangan ruang hidup, atau harus dihadapkan dengan konsekuensi aktivitas ekstraksi sumber daya alam, maka makna independensi yang dinilai masih perlu terus diperjuangkan.

Pesan yang disampaikan melalui aksi tersebut pun menegaskan bahwa pembangunan tidak seharusnya hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan negara melindungi masyarakat dan lingkungan.

“Merdeka bukan sekedar kata. Merdeka adalah ketika rakyat tak lagi dikorbankan.”

Kalimat tersebut menjadi penutup pesan yang dibawakan JATAM Kaltim bersama mahasiswa pada momentum Hari Kemerdekaan ke-81 RI.

Aksi di tengah perayaan 17 Agustus itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dapat dimaknai dengan berbagai cara. Di satu sisi, masyarakat merayakannya melalui upacara dan berbagai kegiatan kebangsaan. Di sisi lain, sebagian kelompok memilih menggunakan momentum tersebut untuk menyuarakan kritik terhadap permasalahan yang mereka anggap masih menghambat terwujudnya kehidupan yang adil dan berkelanjutan.

Bagi JATAM Kaltim dan mahasiswa yang terlibat, merayakan kemerdekaan juga berarti memperjuangkan hak masyarakat atas lingkungan hidup dan ruang hidup yang tidak dikorbankan demi kepentingan eksploitasi sumber daya alam.