RWWG Buka Babak Baru: Amniati Pimpin 2026–2030, Perempuan dan Alam Jadi Taruhan
Amniati ditetapkan memimpin RWWG 2026–2030. Organisasi menargetkan penguatan perempuan, komunitas, kebijakan dan perlindungan alam.(poto/ist/satuju.cim)
Satuju.com - RWWG 2026–2030 menghadapi pekerjaan besar setelah Musyawarah Besar (MUBES) VII Riau Women Working Group menetapkan Amniati, S.Pi. sebagai Direktur untuk periode lima tahun mendatang. Pergantian kepemimpinan ini tidak hanya menandai perubahan struktur, tetapi juga membawa agenda baru untuk memperkuat gerakan perempuan sekaligus memperjuangkan keadilan ekologis di Riau.
MUBES VII menghasilkan 10 Surat Ketetapan (SK) organisasi. Salah satu keputusan pentingnya adalah penetapan Amniati sebagai Direktur RWWG periode 2026–2030.
Forum tersebut juga menetapkan tiga nama sebagai Dewan Pertimbangan dan Pengawas, yakni Desmaniar, S.H., M.H., Candidat Dr. Wong Desmiwati, S.Sos., M.E., dan Sri Wahyuni, S.Pi.
Bagi Desmaniar, posisi tersebut bukan sekadar jabatan tambahan dalam struktur organisasi. Ia melihatnya sebagai mandat untuk ikut menjaga arah perjalanan RWWG agar tetap berpijak pada nilai, prinsip, independensi dan marwah gerakan.
“Bagi kami bertiga, kepercayaan ini bukan sekadar penetapan dalam sebuah Surat Ketetapan.
Ini adalah amanah.Ini adalah kepercayaan. Ini adalah tanggung jawab untuk menjaga rumah perjuangan bersama.”
Desmaniar menegaskan Dewan Pertimbangan dan Pengawas tidak berada di atas organisasi. Mereka, kata dia, harus berdiri bersama seluruh elemen RWWG untuk menjaga organisasi tetap berada di jalur perjuangan.
Lima tahun RWWG dan agenda yang harus dibuktikan
Kepemimpinan Amniati akan menghadapi periode yang telah dipetakan RWWG secara bertahap.
Tahun 2026 menjadi fase konsolidasi dan pemetaan. Pada 2027, organisasi menargetkan penguatan program. Tahun 2028 diarahkan untuk pengembangan dan perluasan. Tahun 2029 menjadi fase penguatan organisasi, sedangkan 2030 ditutup dengan evaluasi, konsolidasi dan keberlanjutan.
Rangkaian target tersebut membuat periode 2026–2030 tidak sekadar menjadi siklus kepengurusan. RWWG ingin mengukur gerakannya dari dampak yang dihasilkan bagi perempuan, komunitas, kebijakan dan lingkungan.
“Namun keberhasilan kita bukan sekadar berapa banyak kegiatan yang dilakukan.
Keberhasilan kita adalah ketika : perempuan semakin berdaya, suara perempuan semakin didengar, komunitas semakin kuat, kebijakan semakin adil, dan alam semakin terlindungi.”
Visi RWWG menjadi pijakan utama dalam agenda tersebut, yakni “Terwujudnya keadilan sosial dan keadilan ekologis terhadap perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.”
Desmaniar melihat isu perempuan dan lingkungan sebagai dua persoalan yang saling berkaitan. Kerusakan hutan, pencemaran air hingga ancaman terhadap sumber kehidupan dapat memberikan dampak langsung terhadap perempuan dan keluarga.
“Karena itu :
🌱 Memperjuangkan perempuan berarti juga memperjuangkan alam dan sumber kehidupan.”
Dari cerita perempuan menjadi kebijakan
Salah satu tantangan RWWG lima tahun ke depan adalah memastikan pengalaman perempuan di tingkat akar rumput tidak berhenti sebagai cerita.
Desmaniar mendorong pengalaman tersebut dikumpulkan dan diolah menjadi data. Data kemudian menjadi pengetahuan, pengetahuan melahirkan rekomendasi, dan rekomendasi diperjuangkan menjadi kebijakan.
“Saya percaya, pengalaman perempuan di akar rumput tidak boleh berhenti sebagai cerita. Cerita harus menjadi data. Data menjadi pengetahuan. Pengetahuan menjadi rekomendasi. Dan rekomendasi diperjuangkan menjadi kebijakan.”
Bersamaan dengan penguatan advokasi, RWWG juga dituntut memperkuat rumah organisasinya sendiri.
Transparansi, akuntabilitas, kesehatan organisasi dan kaderisasi menjadi bagian penting agar gerakan tidak bergantung pada satu atau beberapa figur.
Desmaniar menyebut gerakan besar hanya dapat bertahan apabila organisasi yang menjadi rumah perjuangan memiliki fondasi yang kuat.
Di sisi lain, dinamika internal dan perbedaan pandangan dipandang sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Namun perbedaan tersebut tidak harus berubah menjadi perpecahan.
“Perbedaan tidak harus memisahkan. Perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika kita tetap saling menghormati. Karena perjuangan perempuan bukan tentang siapa yang berdiri paling depan.
Perjuangan perempuan adalah tentang bagaimana kita berjalan bersama—dan memastikan tidak ada perempuan yang tertinggal.”
Menjaga arah RWWG hingga 2030
Desmaniar bersama Wong Desmiwati dan Sri Wahyuni menyatakan akan menjalankan fungsi pengawasan dan pertimbangan secara konstruktif.
Mereka tidak ingin fungsi tersebut menjadi ruang untuk mencari siapa yang paling benar. Sebaliknya, posisi itu diarahkan untuk memastikan keputusan dan perjalanan organisasi tetap berpegang pada kepentingan perjuangan perempuan, keadilan dan nilai-nilai RWWG.
“Sebagai bagian dari Dewan Pertimbangan dan Pengawas RWWG, saya bersama Candidat Dr. Wong Desmiwati, S.Sos., M.E. dan Sri Wahyuni, S.Pi. akan berusaha menjalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab, menjaga nilai dan prinsip organisasi, serta memberikan pertimbangan yang konstruktif bagi perjalanan RWWG ke depan.”
Kepada Amniati, Desmaniar berharap kepemimpinan baru mampu merawat fondasi yang telah dibangun para pendahulu, memperbaiki kekurangan dan menghadirkan inovasi untuk menjawab tantangan baru.
“Karena seorang pemimpin tidak pernah berjalan sendirian. Pemimpin membutuhkan tim. Tim membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan tumbuh dari komunikasi, keterbukaan dan kebersamaan.”
Kini, RWWG memasuki periode baru. Tantangannya bukan hanya mempertahankan gerakan yang sudah berjalan, tetapi memastikan perjuangan tersebut menghasilkan perubahan yang bisa dirasakan.
Bagi RWWG, lima tahun ke depan akan menjadi perjalanan dari penguatan organisasi menuju penguatan gerakan, dari komunitas menuju perubahan kebijakan, serta dari perjuangan lokal menuju jejaring yang lebih luas.
Pesannya dirangkum dalam satu agenda: menguatkan perempuan, menjaga alam dan menggerakkan perubahan.
