Iran Susun Syarat Baru untuk Buka Selat Hormuz, Minta AS Cabut Blokade

Selat Hormuz. (poto/net)

Jakarta, Satuju.com – Iran dikabarkan tengah menyiapkan sejumlah persyaratan baru sebagai prasyarat untuk membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur strategi bagi lalu lintas energi dunia.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan para mediator telah meminta Teheran menyusun daftar persyaratan, termasuk ketentuan yang berkaitan dengan upaya mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan tersebut disampaikan Rezaei ketika Qatar membuka pembicaraan dengan Iran. Dialog itu berlangsung setelah sebelumnya Pakistan dan Oman juga melakukan pembicaraan dengan Teheran terkait situasi di kawasan.

Kementerian Luar Negeri Qatar berbicara tentang pembicaraan dengan Iran juga membahas kemungkinan pembentukan koridor sementara di Selat Hormuz serta proyek bersama untuk melakukan pembersihan ranjau di jalur pelayaran tersebut.

Rezaei mengatakan Iran dan Oman telah menyepakati pembentukan sebuah koridor yang sebagian melintasi perairan Oman dan sebagian lainnya berada di perairan Iran. Jalur tengah tersebut dapat digunakan oleh kapal apabila Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.

“AS harus lebih dulu mengambil langkah-langkah praktis untuk memenuhi syarat-syarat Iran, dan kemudian Iran akan melanjutkan untuk membuka Selat Hormuz,” kata Rezaei kepada kantor berita IRNA.

Sementara itu, seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa Teheran belum akan membuka kembali Selat Hormuz selama Washington masih memberlakukan blokade terhadap Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu (26/8). Menurutnya, salah satu syarat utama yang harus dipenuhi AS adalah mencabut blokade terhadap Iran.

Selain pencabutan blokade, Washington juga menuntut pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang serta mencabut seluruh sanksi ekonomi yang dikenakan terhadap Teheran.

Selat Hormuz Kembali Ditutup

Selat Hormuz secara efektif ditutup oleh Iran setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari lalu.

Jalur perairan yang berada di antara Iran dan Oman tersebut memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak dan energi dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap pasokan dan harga energi global.

Selat Hormuz sempat dibuka kembali dalam waktu singkat setelah Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian pada bulan Juni. Pada periode tersebut, AS termasuk mencabut blokade dan memberikan sejumlah sanksi terhadap Iran.

Namun, situasi kembali memburuk setelah Iran menghentikan kesepakatan Amerika Serikat yang telah dibuat. Teheran kemudian kembali menutup Selat Hormuz.

Washington menanggapi dengan menerapkan kembali blokade serta sanksi terhadap Iran.

Perkembangan terbaru menunjukkan pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada proses negosiasi dan menyediakan kebutuhan Iran. Kondisi tersebut membuat jalur strategi pelayaran itu tetap menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan konflik antara Teheran dan Washington.