Empat Tanda Kebahagiaan dalam Islam: Tetangga Baik hingga Pasangan Saleh
Ilustrasi kebahagiaan.(poto/net)
Satuju.com — Kebahagiaan dalam perspektif Islam tidak selalu diukur dari banyaknya harta atau tinggi kedudukan seseorang. Ketenangan hati dan kondisi kehidupan yang memberikan rasa nyaman justru menjadi bagian penting dari kebahagiaan.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, menyampaikan hal tersebut dalam kajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (13/9/2026).
Dalam kajian tersebut, Rahmadi menjelaskan sejumlah tanda kebahagiaan sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah hadis yang menyebut tiga kondisi, yakni memiliki tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman, serta tempat tinggal yang lapang.
“Di antara kebahagiaan seseorang adalah memiliki tetangga yang saleh, kendaraan yang nyaman, dan tempat tinggal yang lapang.”
Menurut Rahmadi, hadis tersebut menggambarkan bahwa kebahagiaan memiliki kaitan yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Selain tiga hal tersebut, dalam riwayat lain juga disebutkan pasangan yang saleh sebagai salah satu bagian dari kebahagiaan.
Tetangga yang Baik
Rahmadi menyebut tetangga yang baik sebagai salah satu unsur penting dalam menciptakan kenyamanan hidup. Hubungan sosial yang sehat memungkinkan warga saling membantu, menjaga dan memberikan rasa aman.
Ia mengibaratkan hubungan baik antartetangga sebagai “pagar mangkok”. Menurutnya, perlindungan terhadap kehidupan seseorang tidak hanya berasal dari pagar fisik rumah, tetapi juga dari kepedulian lingkungan sekitar.
Ketika hubungan antarwarga terjalin dengan baik, seseorang akan memiliki lingkungan sosial yang mendukung dan membuat kehidupan sehari-hari terasa lebih nyaman.
Kendaraan yang Nyaman
Tanda berikutnya adalah kendaraan yang nyaman. Rahmadi menjelaskan, kendaraan berkaitan dengan kemudahan mobilitas seseorang dalam menjalankan berbagai aktivitas.
Mobilitas tersebut tidak hanya mencakup pekerjaan atau mencari nafkah, tetapi juga aktivitas ibadah dan silaturahmi.
Kendaraan yang dimaksud pun tidak harus selalu berupa kendaraan pribadi. Sarana transportasi umum maupun layanan transportasi yang mudah digunakan juga dapat memberikan kemudahan dalam menjalani aktivitas.
“Al-markabul hani, kendaraan yang nyaman,” jelasnya.
Menurut Rahmadi, kemudahan dalam mobilitas dapat membantu seseorang menjalankan berbagai kebutuhan hidup secara lebih baik.
Rumah yang Lapang
Selain itu, kebahagiaan juga ditandai dengan rumah yang lapang. Namun Rahmadi menegaskan bahwa makna kelapangan rumah tidak hanya berkaitan dengan luas bangunan.
Rumah seharusnya menjadi tempat yang menghadirkan ketenangan bagi penghuninya. Di dalamnya terdapat aktivitas membaca Al-Qur'an, belajar agama dan melaksanakan ibadah.
Rahmadi juga mengingatkan pesan Nabi Muhammad SAW agar rumah tidak dijadikan seperti kuburan. Salat wajib bagi laki-laki memiliki keutamaan untuk dilaksanakan di masjid, sementara salat sunah dapat menjadi bagian dari aktivitas ibadah di rumah.
Dengan demikian, rumah tidak sekadar menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun suasana spiritual dan ketenangan keluarga.
Pasangan yang Saleh
Tanda kebahagiaan lainnya adalah memiliki pasangan yang saleh. Rahmadi menjelaskan, kesalehan berkaitan dengan sesuatu yang memberikan manfaat dan membawa kebaikan.
Dalam kehidupan rumah tangga, pasangan yang saleh diharapkan mampu memberikan kebaikan bagi pasangannya. Hal serupa juga terjadi dalam hubungan antara anak dan orang tua.
Anak yang saleh dapat memberikan manfaat melalui perhatian dan perawatan kepada orang tua ketika masih hidup. Setelah orang tua meninggal dunia, doa anak juga menjadi bentuk kebaikan yang terus diberikan.
Rahmadi mengingatkan salah satu doa untuk kedua orang tua:
“Rabbighfir li wa liwalidayya warhamhuma kama rabbayani saghira.”
Menurutnya, kebiasaan berdoa dan berdoa juga membantu seseorang untuk mengingat jasa kedua orang tuanya.
Pada akhirnya, Rahmadi menekankan bahwa kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi yang terlihat dari luar. Berbagai fasilitas dan hubungan sosial memang dapat menjadi penunjangnya, namun sumber utama kebahagiaan berada dalam kondisi batin seseorang.
“Kesimpulan hadis tentang kebahagiaan itu tempatnya di dalam dada, hati atau jiwa. Cirinya bahagia itu tenang, tenteram, luas,” tutupnya.
