YKAN Evaluasi Restorasi Mangrove di Desa Kembung Luar, Cek Langsung Kondisi Lapangan

YKAN Evaluasi Restorasi Mangrove di Desa Kembung Luar

Bengkalis, Satuju.com — Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan restorasi mangrove yang dilakukan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) bersama masyarakat Desa Kembung Luar, Selasa (15/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan program restorasi mangrove berjalan sesuai rencana, sekaligus menghentikan pencapaian, mengidentifikasi kendala dan menyusun kebutuhan tindak lanjut di lapangan.

Monev diawali dengan pemaparan dari Ketua LPHD sekaligus Sekretaris Desa Kembung Luar, Faizan, di Gedung Serbaguna Kantor Desa Kembung Luar.

Dalam paparannya, Faizan memaparkan perkembangan kegiatan restorasi yang telah dilakukan LPHD bersama masyarakat, termasuk upaya pemulihan dan perlindungan ekosistem mangrove di kawasan pesisir desa.

Sejumlah kegiatan yang telah dilakukan antara lain pembibitan, normalisasi parit, pembuatan parit sekunder, penanaman serta pemeliharaan mangrove dengan melibatkan masyarakat.

Berdasarkan rekapitulasi monitoring dan evaluasi, LPHD telah melakukan normalisasi parit primer sepanjang 2.259 meter. Selain itu, pengadaan benih siap tanam untuk Blok 1.1 sebanyak 6.672 benih juga telah mencapai target.

Sementara kegiatan yang masih berjalan di antaranya pembuatan jalur bersih di Blok 4.1 dengan luas kawasan 10.518,52 meter yang telah mencapai progres 90 persen.

Kemudian pembuatan parit sekunder di Blok 6.1 dengan luas 1.363,72 meter telah mencapai kemajuan sekitar 70 persen.

Faizan berharap dukungan dan pendampingan dari berbagai pihak, khususnya YKAN, dapat terus diberikan untuk memperkuat pelaksanaan restorasi mangrove di Desa Kembung Luar.

“Yang tidak kalah penting, kami berharap pihak YKAN dapat terus memberikan support, pendampingan dan bimbingan kepada LPHD Desa Kembung Luar. Dengan adanya dukungan tersebut, kami optimis kegiatan restorasi mangrove dapat berjalan lebih baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat,” tuturnya.

Koordinator Kerja Sama Riau YKAN, Fadil Nandilah, mengatakan monitoring dan evaluasi perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui perkembangan program secara faktual.

Menurutnya, monev tidak hanya digunakan untuk melihat capaian kegiatan, tetapi juga mengidentifikasi bagian-bagian yang belum berjalan optimal sehingga dapat segera ditindaklanjuti.

“Monitoring dan evaluasi ini penting dilakukan secara berkala untuk melihat capaian, keberhasilan maupun hal-hal yang belum berhasil dalam pelaksanaan restorasi mangrove. Dari hasil evaluasi tersebut, kita dapat menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan keberhasilan program ke depannya,” ujar Fadil.

Ia menambahkan, hasil evaluasi menjadi bahan untuk menyusun strategi dan langkah lanjutan dalam kegiatan perlindungan, pemulihan, konservasi serta restorasi mangrove agar berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat.

Fadil juga berharap keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan mangrove terus diperkuat. Menurutnya, keberlanjutan kawasan yang telah direstorasi membutuhkan peran aktif masyarakat di tingkat desa.

Kepala Desa Kembung Luar, Jamaludin, turut berharap YKAN melanjutkan dukungan dan pendampingan terhadap LPHD dan masyarakat.

“Kami berharap YKAN terus mensupport LPHD dan masyarakat Desa Kembung Luar sehingga upaya perlindungan, pemulihan, konservasi, dan restorasi mangrove dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” harapnya.

Jamaludin menilai keberhasilan restorasi mangrove tidak hanya berkaitan dengan kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.

Pada hari yang sama, kegiatan juga diisi dengan diskusi dan audiensi antara YKAN, Pemerintah Desa Kembung Luar dan sejumlah mitra dari luar negeri. Rombongan tersebut terdiri dari Crankstart Foundation Amerika, Jesse Emiliano Hahnel; Global Mangrove Alliance/The Nature Conservancy Amerika, Emily Charlotte Landis; GMA/TNC Kanada, Shruti Mittal; serta Dhita Rachmadini dari CLUA Indonesia.

Rombongan didampingi dari YKAN oleh Direktur Program Kelautan Indonesia sekaligus Deputi Direktur Eksekutif YKAN, M. Ilman Direktur; Senior Manager Program Ketahanan Pesisir YKAN, Mariski Nirwan; serta Koordinator Kerja Sama Riau YKAN, Fadil Nandilah.

Usai pemaparan, tim YKAN bersama LPHD Desa Kembung Luar turun langsung ke sejumlah blok kawasan restorasi mangrove. Peninjauan memastikan dilakukan untuk melihat kondisi kawasan sekaligus perkembangan mangrove yang telah direstorasi sesuai dengan pencapaian yang dipaparkan dalam kegiatan monev.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah kawasan hidrologi. Tim melakukan pengamatan terhadap kondisi kawasan, termasuk sistem tata udara yang menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pemulihan ekosistem mangrove.

Hasil pengamatan lapangan selanjutnya menjadi bahan evaluasi bagi YKAN, LPHD dan masyarakat untuk menentukan langkah penanganan serta tindakan lebih lanjut yang diperlukan.

Tim YKAN lainnya bersama rombongan juga melakukan peninjauan dengan menelusuri aliran Sungai Kembung Luar menggunakan speedboat. Dari peninjauan tersebut, tim mengamati sejumlah restorasi kawasan, termasuk kondisi pertumbuhan mangrove dan lingkungan di sekitarnya.

Kegiatan lapangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan perkembangan yang disampaikan LPHD dengan kondisi restorasi kawasan faktual.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Bengkalis, Kepala Bidang PPKLH, Babinkamtibmas, Ketua BPD Kembung Luar, Ketua LPHD Kembung Baru, Ketua LPHD Teluk Pambang serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Melalui pemantauan dan evaluasi secara berkala, YKAN bersama LPHD Desa Kembung Luar diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan menyusun langkah-langkah tindak lanjut untuk memastikan restorasi mangrove tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi tetap pada pemeliharaan, perlindungan dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.