5 Perkataan yang Sering Diucapkan Orang Egois
Ilustrasi seseorang egois.(poto/net)
Jakarta, Satuju.com – Egois merupakan sifat yang cukup umum ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Meski kerap mendapat konotasi negatif, sikap mementingkan diri sendiri pada kondisi tertentu tetap dapat memiliki fungsi.
Society for Personality and Social Psychology mendefinisikan egois sebagai motif untuk bertindak demi kepentingan diri sendiri atau kecenderungan seseorang untuk memusatkan perhatian pada apa yang diinginkannya.
Namun, ketika sifat tersebut muncul secara berlebihan, egoisme dapat mengganggu hubungan dengan orang lain. Dalam lingkungan kerja, misalnya, perilaku egois berpotensi mempengaruhi rekan satu tim dan menghambat kerja sama.
Peneliti psikologi di bidang pekerjaan asal Amerika Serikat, Stefan Falk, mengatakan dirinya telah menemukan berbagai perilaku karyawan yang terlalu mementingkan diri sendiri selama menangani masalah di lingkungan perusahaan.
“Saya telah menghabiskan lebih dari 30 tahun membantu perusahaan menavigasi karyawan yang terlalu egois, terutama mereka yang perilakunya dapat merugikan rekan satu tim mereka,” ujar Falk dalam NBC Philadelphia, dikutip Kamis (4/9/2025).
5 Perkataan yang Kerap Diucapkan Orang Egois
Berdasarkan pengalamannya, Falk mengungkap sejumlah kata yang sering muncul dari orang-orang dengan kecenderungan egois.
1. “Kamu tidak sopan karena tidak setuju dengan saya”
Orang yang egois cenderung membutuhkan pengakuan dan sulit menerima sudut pandang yang berbeda. Perbedaan pendapat yang seharusnya dapat menjadi kesempatan untuk belajar malah dianggap sebagai bentuk persetujuan.
“Orang yang merasa mengharapkan pengakuan atas pengalaman dan perspektif mereka, dan kurang bersemangat dalam belajar dari orang lain,” kata Falk.
2. “Ide saya berharga dan selalu layak dipertimbangkan”
Menurut Falk, orang egois sering menganggap gagasan atau kontribusi mereka memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan milik orang lain.
Mereka juga cenderung mengabaikan kemungkinan bahwa idenya sendiri memiliki kekurangan.
“Mereka mengabaikan kebenaran bahwa sebagian besar ide, pendapat, dan saran kita mengandung kekurangan meskipun dari seberapa besar usaha yang kita tuangkan di dalamnya,” ujarnya.
3. “Masukan ini”
Salah satu ciri lainnya adalah kesulitan menerima kritik atau masukan. Alih-alih melihatnya sebagai kesempatan untuk berkembang, masukan dapat dianggap sebagai serangan terhadap diri sendiri.
“Mereka percaya bahwa mereka tidak mungkin melakukan kesalahan,” kata Falk.
4. “Kesuksesan yang mereka peroleh dengan pengorbanan saya”
Ketika melihat orang lain berhasil, orang yang sangat egois dapat kesulitan memberikan dukungan. Kesuksesan orang lain bahkan bisa dipandang sebagai sesuatu yang tidak adil atau diperoleh karena perlakuan khusus.
Menurut Falk, kecenderungan yang mementingkan diri sendiri justru dapat diarahkan untuk membantu orang lain.
“Seseorang yang sangat egois cenderung kurang sukses dibandingkan orang yang menyampaikan kecenderungan mementingkan diri mereka sendiri untuk membantu orang lain,” jelasnya.
5. “Mengapa kamu selalu mengontrol saya?”
Orang dengan kecenderungan egois juga dapat merasa tidak nyaman ketika mendapat arahan atau ekspektasi yang jelas dari atasan.
Instruksi tersebut bisa dianggap sebagai bentuk kontrol atau perlakuan tidak adil, bukan sebagai bagian dari tanggung jawab dan koordinasi pekerjaan.
Cara Menghadapi Orang Egois
Falk menyebut ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak perilaku egois terhadap lingkungan sekitar.
Pertama, mengurangi interaksi dengan orang yang menunjukkan perilaku tersebut jika memungkinkan. Kedua, menetapkan batasan yang jelas dan menegur perilaku atau kata yang dianggap mengganggu jika diperlukan.
Ketiga, memberikan pemahaman mengenai risiko dari perilaku yang terlalu mementingkan diri sendiri, terutama apabila sudah berdampak terhadap orang lain atau tim kerja.
Menurut Falk, upaya tersebut mungkin tidak langsung mendapatkan respon yang diharapkan. Namun, tetap ada kemungkinan orang tersebut menyadari perilakunya dan mulai melakukan refleksi terhadap sikap yang selama ini ditunjukkan.
