Kiai Saad Ibrahim Ajak Umat Rawat Iman dengan Merenungi Kebesaran Allah

Kiai Saad Ibrahim.(poto/net)

Jakarta, Satuju.com – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai Saad Ibrahim mengajak umat Islam untuk terus merawat sekaligus meningkatkan keimanan. Menurutnya, iman perlu dikelola melalui berbagai ikhtiar agar tetap terjaga dan semakin kuat.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Saad dalam acara TVMu, Jumat (19/9). Ia menjelaskan bahwa dalam kajian ilmu kalam terdapat sejumlah pandangan mengenai kondisi iman. Ada pandangan yang menyebut iman dapat tetap atau bahkan hilang, sementara pandangan lainnya menyatakan iman dapat bertambah dan berkurang (yazīdu wa yaqūṣ).

“Iya, maka mengelola iman itu menjadi bagian penting. Setidak-tidaknya supaya tetap, tapi kalau nanti bisa bertambah, itu lebih baik,” ujarnya.

Salah satu cara yang dianjurkan Kiai Saad untuk meningkatkan iman adalah dengan mencermati ayat-ayat Allah. Menurutnya, ayat Allah tidak hanya terdapat dalam Al-Qur'an, tetapi juga berupa tanda-tanda kebesaran-Nya yang terbentang di alam semesta dan terdapat dalam diri manusia.

Ia mengutip Surah Fussilat ayat 53 yang menjelaskan bahwa Allah akan menampilkan tanda-tanda kebesaran-Nya di segenap penjuru dan pada diri manusia hingga menjadi jelas kebenaran Al-Qur'an.

“Perhatikan, cermati ayat-ayat Allah. Baik ayat-ayat itu yang terbentang di alam semesta ini atau bahkan yang ada pada diri kita, pada tubuh kita,” jelasnya.

Kiai Saad menyebut tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta sebagai ayat kauniah. Menurutnya, umat Islam perlu mempelajari dan memikirkan tanda-tanda tersebut, sekaligus membaca ayat-ayat Allah yang terdapat dalam Al-Qur'an.

Ia mencontohkan kajian astrofisika yang menggambarkan alam semesta yang luas dan teratur. Teori big bang, misalnya, menjelaskan perkembangan awal alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu yang kemudian membentuk galaksi dan berbagai sistem tata surya.

Dalam konteks tersebut, bumi yang menjadi tempat tinggal manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta yang sangat luas.

Menurut Kiai Saad, keteraturan alam semesta seharusnya mendorong manusia untuk menyadari kebesaran Allah.

“Artinya tidak ada yang diciptakan dalam konteks yang sempit dan terukur,” katanya.

Namun, ia mengingatkan agar manusia tidak berhenti pada fenomena alam yang diamati secara ilmiah. Tanda-tanda tersebut seharusnya mengantarkan manusia untuk mengenali kebesaran Allah.

“Kita tidak boleh berhenti pada ayat. Kita harus sampai pada di balik ayat itu, yaitu kebesaran Allah,” tegasnya.

Kiai Saad kemudian menyerang fisikawan Stephen William Hawking sebagai contoh bahwa penguasaan ilmu astrofisika tidak secara otomatis membawa seseorang pada kesimpulan teistik. Ia menyebut Hawking, yang lahir pada tahun 1942 dan meninggal pada tahun 2018, memiliki pandangan mengenai alam semesta yang tidak sampai pada kesimpulan tentang Tuhan.

Oleh karena itu, Kiai Saad menilai pembacaan terhadap alam semesta perlu dilengkapi dengan membaca Al-Qur'an. Keduanya dapat menjadi sarana untuk memperkuat keimanan.

“Bacalah ayat-ayat Allah di alam semesta ini. Lalu sempurnakan bacaan kita itu membaca ayat-ayat Allah yang terbentang di dalam kitab sucinya, di dalam Al-Qur'an,” tuturnya.

Selain memandang kebesaran Allah, Kiai Saad mengingatkan pentingnya menjadikan Allah sebagai tempat meminta pertolongan. Ia mengutip hadis, idzā sa'alta fas'alillāh wa idzā ista'anta fasta'in billāh, yang mengajarkan agar manusia meminta dan memohon pertolongan kepada Allah.

Menurutnya, permintaan tersebut tidak harus selalu berkaitan dengan persoalan besar. Hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari juga dapat dimintakan kepada Allah.

“Yang kecil-kecil pun juga mintalah kepada Allah,” katanya.

Kiai Saad juga mengingatkan bahwa iman dan Islam merupakan nikmat dari Allah yang perlu disadari serta disyukuri. Menurutnya, amal kebaikan yang dilakukan karena Allah dapat menambah keimanan, sedangkan kemaksiatan dapat menggerogotinya.

"Segala kebaikan yang kita lakukan dengan sepenuh hati karena Allah akan menambah iman kita. Sebaliknya kemudian maksiat yang kita lakukan akan menggerogoti iman kita," jelasnya.

Meski demikian, ia menyadari manusia tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak istigfar sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa manusia dapat berbuat salah, tetapi pintu ampunan Allah tetap terbuka bagi mereka yang memohon ampun.

“Ya, istigfar semoga menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Astaghfirullah, astaghfirullah. Astaghfirullah,” tutupnya.