Daratan Bantan Dikikis Selat Malaka, Pulau Bengkalis Kian Terdesak

Tangkapan layar: Sumber Video: wharoxs / Vt: wharoxs Sumber Instagram: @bengkalisku.(poto/ist)

BENGKALIS, Satuju.com – Abrasi Pulau Bengkalis di kawasan Bantan, Kabupaten Bengkalis, terus menggerus daratan yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Gelombang laut perlahan mengubah garis pantai dan mengancam kawasan pesisir, lahan warga serta ekosistem mangrove.

Rekaman dari udara memperlihatkan kondisi pesisir Desa Selatbaru dan Bantan Timur yang terus menerima hantaman gelombang. Vegetasi di bibir pantai tampak berhadapan langsung dengan laut, sementara sebagian daratan mulai terkikis.

Fenomena serupa terlihat di Jalan Gebak, RT 02/RW 11, Dusun Teluk Pesisir, Desa Teluk Papal, Kecamatan Bantan. Sebuah pohon kelapa yang sebelumnya tumbuh di daratan kini berdiri di kawasan yang telah terkikis air laut.

Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata perubahan garis pantai di pesisir Pulau Bengkalis. Saat musim angin, gelombang yang lebih besar disebut warga mempercepat pengikisan hingga mendekati lahan perkebunan.

Seorang warga yang rutin mendokumentasikan perkembangan abrasi melalui media sosial mengatakan kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan.

"Setiap musim angin datang, ombak semakin besar dan terus mengikis pantai. Kalau dibiarkan, kebun warga akan habis dan daratan Pulau Bengkalis akan semakin menyusut," ujarnya.

Warga tersebut mengaku hampir setiap pekan mengunggah foto dan video kondisi pesisir agar persoalan abrasi tetap mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat.

Di sejumlah titik, mangrove memang mulai tumbuh. Namun, warga menilai keberadaan vegetasi itu belum cukup menghadapi gelombang besar karena kawasan pesisir tersebut berhadapan langsung dengan Selat Malaka.

"Ada beberapa pohon mangrove, tetapi tidak kuat menahan abrasi karena ombak di sini terlalu besar. Wilayah ini langsung berhadapan dengan Selat Malaka," katanya.

Warga juga mengaku belum melihat penanganan yang dinilai efektif untuk memperlambat laju abrasi. Mereka khawatir pengikisan terus berlangsung hingga mengancam lahan perkebunan dan kawasan permukiman.

"Bantu kami, Pak. Beginilah faktanya di Pulau Bengkalis. Saya hampir setiap minggu memposting kondisi ini supaya ada yang melihat dan memperhatikan," ungkapnya.

Abrasi dan Kekhawatiran Pulau Terluar

Persoalan abrasi kemudian berkembang menjadi kekhawatiran yang lebih luas di tengah masyarakat. Dalam sejumlah forum warga, termasuk percakapan di grup WhatsApp, muncul sorotan mengenai dampak abrasi terhadap posisi strategis Pulau Bengkalis sebagai wilayah pulau terluar Indonesia.

“Jangan hanya menyebut ini soal Pulau Bengkalis, tapi ini pulau terluar Indonesia. Kalau bibir pantai terus rusak akibat abrasi, maka Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) kita juga ikut berkurang,” tulis seorang warga dalam diskusi tersebut.

Warga tersebut mengaitkan kemunduran garis pantai dengan kekhawatiran terhadap wilayah laut Indonesia. Namun, kaitan antara perubahan garis pantai akibat abrasi dan batas wilayah maritim memiliki aspek hukum serta teknis yang tidak sesederhana perubahan fisik garis pantai.

Kekhawatiran warga juga menyinggung dugaan aktivitas tambak yang disebut dapat memperparah kerusakan pesisir. Persoalan tersebut membutuhkan penelusuran dan pembuktian lebih lanjut agar tidak berhenti pada dugaan.

“Kalau tebing pantai terus digerus, apalagi diperparah dengan penggalian tambak, itu sama saja perlahan memperkecil wilayah Indonesia. Jangan sampai kita kehilangan wilayah hanya karena lalai menjaga lingkungan,” tulis warga lainnya.

Pulau Bengkalis sendiri tercantum sebagai salah satu pulau kecil terluar dalam Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2017. Dalam lampiran keputusan tersebut, Bengkalis berada pada urutan ke-102.

Status tersebut membuat persoalan abrasi tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan dan perlindungan lahan masyarakat. Penanganan kawasan pesisir juga bersinggungan dengan kepentingan strategis wilayah perbatasan dan pengelolaan ruang laut.

Karena itu, warga berharap kondisi pesisir Bantan mendapat perhatian lebih serius. Dokumentasi yang terus mereka sebarkan diharapkan dapat menjadi alarm mengenai perubahan garis pantai yang berlangsung dari waktu ke waktu.

Sumber Video: wharoxs / Vt: wharoxs
Sumber Instagram: @bengkalisku