Rupiah Terpuruk ke Rp18.025 per Dolar AS, Kekhawatiran Downgrade MSCI Picu Tekanan
Ilustrasi Dolar dan Rupiah. (poto/net)
Jakarta, Satuju.com – Nilai tukar rupiah ditutup melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu meningkatnya sentimen risk-off di pasar domestik menyusul kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan peringkat indeks (downgrade) oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berdasarkan analisis data Doo Financial Futures, rupiah terkoreksi 87 poin atau melemah 0,49 persen ke level Rp18.025 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada perdagangan hari itu. Kondisi ini berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang negara-negara Asia lainnya yang justru menguat terhadap dolar AS.
Won Korea Selatan mencatatkan perolehan terbesar, yakni 0,66 persen. Berikutnya, baht Thailand menguat 0,31 persen, dolar Singapura naik 0,14 persen, sedangkan peso Filipina dan rupee India masing-masing menguat 0,10 persen.
Yuan China juga mencatat penguatan tipis sebesar 0,04 persen. Sementara itu, yen Jepang, dolar Hong Kong, dan ringgit Malaysia terpantau stagnan.
Kekhawatiran MSCI Tekan Rupiah
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off di pasar domestik. Kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan peringkat oleh MSCI menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan mata uang Indonesia.
Sentimen risk-off mencerminkan kecenderungan investor mengurangi eksposur terhadap aset yang dianggap berisiko dan memilih instrumen yang dinilai lebih aman.
“Rupiah ditutup melemah tajam terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-off domestik oleh kekhawatiran downgrade MSCI,” ujar Lukman, Jumat (16/10/2026).
Pelemahan rupiah juga terjadi ketika indeks dolar AS terpantau bergerak menurun, seiring meredanya aksi jual di pasar obligasi global.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah pada perdagangan tersebut lebih berkaitan dengan sentimen negatif dari dalam negeri dibandingkan penguatan dolar AS secara luas.
Kekhawatiran mengenai MSCI menjadi perhatian pelaku pasar karena perubahan penilaian terhadap pasar saham suatu negara berpotensi mempengaruhi persepsi investor dan keputusan investasi, termasuk aliran modal asing.
Rupiah Berpotensi Bergerak di Kisaran Rp18.000–Rp18.200
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan selama kekhawatiran investor terhadap sentimen negatif domestik belum mereda.
Respons pelaku pasar dan langkah strategis pemerintah dalam beberapa hari mendatang akan menjadi faktor penting yang mempengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Apabila respons pasar dan kebijakan pemerintah tidak mampu meredakan kecemasan investor, tekanan terhadap rupiah berpotensi berkurang. Sebaliknya, jika kekhawatiran tersebut terus berlanjut, volatilitas nilai tukar masih perlu diperhatikan.
Untuk jangka pendek, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.000 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Perkembangan sentimen pasar dan respon pemerintah terhadap isu MSCI pun menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati prospek rupiah pada perdagangan selanjutnya.
