Rupiah Tertekan di Tengah Penguatan Mata Uang Asia, Dolar AS Tembus Rp18.147

Ilustrasi Rupiah tertekan.(poto/net)

Jakarta, Satuju.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (2/11/2026). Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan mayoritas mata uang Asia yang justru bergerak positif terhadap dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup melemah sekitar 0,05% atau sembilan poin ke level Rp18.156 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Garuda juga membuka lesu di posisi Rp18.156 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB.

Tekanan terhadap rupiah sempat berlanjut pada perdagangan intraday. Hingga pukul 13.29 WIB, rupiah tercatat melemah 0,29% atau 52,2 poin ke level Rp18.147,7 per dolar AS.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah mata uang kawasan Asia. Ringgit Malaysia menguat 0,12%, yuan China naik 0,07%, rupee India menguat 0,21%, dan peso Filipina menguat 0,17%.

Penguatan juga dialami won Korea Selatan sebesar 0,59%, dolar Singapura 0,16%, dolar Hong Kong 0,01%, serta yen Jepang yang naik 0,10%.

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari intimidasi politik dalam negeri. Ketegangan politik yang berlanjut di tengah gelombang refleksi masyarakat di berbagai daerah dinilai turut mempengaruhi persepsi investor terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Menurut Ibrahim, hal tersebut mencerminkan ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penanganan kebakaran hutan dan alokasi anggaran negara untuk berbagai program pemerintah.

“Apabila ketegangan politik dapat dikelola dengan baik, kepercayaan investor diharapkan dapat kembali pulih. Sebaliknya, jika situasi terus berlarut-larut, tekanan terhadap rupiah, IHSG, investasi, dan perekonomian Indonesia berpotensi semakin besar,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).

Selain faktor politik, Ibrahim juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap potensi peningkatan inflasi menjelang pengumuman data inflasi Oktober 2026. Tingginya inflasi berpotensi mempengaruhi prospek kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI), sehingga menjadi perhatian para pelaku pasar.

Dari eksternal, sentimen datang dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti AS tercatat meningkat 0,3% secara bulanan. Sementara secara tahunan, inflasi inti mencapai 3,1%, sesuai dengan perkiraan pasar.

Di sisi lain, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal III/2026 mencapai 3,4% secara tahunan. Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar maupun realisasi pertumbuhan pada kuartal sebelumnya.

Kondisi tersebut juga memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Desember mendatang.

Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp18.140 hingga Rp18.190 per dolar AS.

Sementara untuk perdagangan pekan berikutnya, rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS.

Mengutip laporan Trading Economics, rupiah juga belum mampu menembus level di bawah Rp18.000 per dolar AS selama dua pekan berturut-turut di tengah penguatan dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada perdagangan Senin (2/11/2026) tercatat melemah 0,15% ke posisi 101,73. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya sejalan dengan perubahan indeks dolar AS pada perdagangan tersebut.