Dalam 20 Tahun Terakhir, Badai Matahari Paling Ekstrem Akan Hantam Bumi

Ilustrasi

Jakarta, Satuju.com - Lebih dari dua dekade, Badai Matahari paling dahsyat akan melanda Bumi, Jumat (10/5/2024), dan memicu pertunjukan cahaya langit spektakuler aurora di langit dari Tasmania hingga Inggris sekaligus mengancam satelit dan jaringan listrik.

Gangguan ini diprediksi berlanjut hingga akhir pekan.

Menurut Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa di Lembaga Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), melansir AFP, corona Badai Matahari imbas lontaran massal (CME), yang adalah pelepasan plasma dan medan magnet dari Matahari, itu terjadi tepat setelah pukul 16.00 GMT (23.00 WIB) ).

"Kondisi ekstrem (G5) mencapai Bumi pada pukul 18.54 EDT (05.54 WIB)," kata NOAA, "Peristiwa ekstrem (G5) terakhir terjadi saat Badai Halloween pada Oktober 2003."

Fenomena ini disebut menyebabkan listrik di Swedia dan merusak infrastruktur listrik di Afrika Selatan dan diprediksi lebih banyak bencana bumi dalam beberapa hari mendatang.

Pihak berwenang memberi tahu operator satelit, maskapai penerbangan, dan jaringan listrik untuk mengambil tindakan pencegahan terhadap potensi gangguan yang disebabkan oleh perubahan medan magnet bumi.

Tidak seperti jilatan api Matahari yang bergerak dengan kecepatan cahaya dan mencapai Bumi dalam waktu sekitar delapan menit, CME bergerak dengan kecepatan yang lebih tenang.

Para pejabat memperkirakan kecepatan rata-rata saat ini adalah 800 kilometer (500 mil) per detik.

Mereka berasal dari kumpulan bintik matahari raksasa yang berukuran 17 kali lebih luas dari planet kita. Matahari mendekati puncak siklus 11 tahun yang membawa peningkatan aktivitas.

Sementara itu, media sosial lebih ramai dengan unggahan gambar aurora dari Eropa utara dan Australasia.

"Kami baru saja membangunkan anak-anak untuk menyaksikan Cahaya Utara di taman belakang! Terlihat jelas dengan mata telanjang," Iain Mansfield, sebuah lembaga think tank di Hertford, Inggris mengatakan kepada AFP.

"Langit yang benar-benar seperti di alkitab di Tasmania pukul 4 pagi ini. Saya berangkat hari ini dan tahu bahwa saya tidak dapat melewatkan kesempatan ini," fotografer Sean O' Riordan memposting di X di samping sebuah foto.

Meski dampak Badai Matahari ini sebagian besar akan terasa di garis lintang utara dan selatan Bumi, Mathew Owens, profesor fisika luar angkasa di University of Reading, mengatakan efeknya secara keseluruhan akan bergantung pada kekuatan fenomena akhir ini.

"Pergilah ke luar malam ini dan lihatlah saran saya karena jika Anda melihat aurora, itu adalah hal yang cukup spektakuler," tambahnya.

Jika punya kacamata gerhana, ia menyebut kita bisa mencari gugusan bintik Matahari pada siang hari.

Brent Gordon dari NOAA mendorong masyarakat untuk mencoba mengabdikan langit malam dengan kamera ponsel meskipun mereka tidak dapat melihat aurora dengan mata telanjang.

"Keluar saja dari pintu belakang rumah Anda dan ambil gambar dengan ponsel terbaru dan Anda akan kagum dengan apa yang Anda lihat di gambar itu dibandingkan dengan apa yang Anda lihat dengan mata Anda."

Fluktuasi medan magnet yang terkait dengan badai geomagnetik menyebabkan arus pada kabel panjang, termasuk saluran listrik, yang berpotensi menyebabkan pemadaman listrik.

Jaringan pipa yang panjang juga dapat menjadi teraliri listrik, yang menyebabkan masalah teknis.

Senator, pesawat luar angkasa berisiko terkena radiasi dosis tinggi, meski atmosfer menghalangi radiasi tersebut mencapai Bumi.

NASA memiliki tim khusus yang mengawasi keselamatan astronot, dan dapat meminta mereka yang ada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk pindah ke tempat-tempat di pos terdepan yang memiliki perlindungan lebih baik.

Merpati dan spesies lain yang memiliki kompas biologi internal juga dapat terkena dampaknya. Parahati pemerhati merpati telah mencatat berkurangnya jumlah burung yang pulang ke rumah selama badai geomagnetik, menurut Jet Propulsion Laboratory NASA.

Para pejabat mengatakan masyarakat harus memiliki rencana cadangan yang normal jika terjadi pemadaman listrik, seperti memiliki senter, baterai, dan radio.

Badai geomagnetik paling kuat dalam sejarah, yang dikenal sebagai Peristiwa Carrington, terjadi pada bulan September 1859, dinamai menurut nama astronom Inggris Richard Carrington.

Kelebihan arus pada jalur telegraf saat itu menyebabkan sengatan listrik pada teknisi bahkan membakar beberapa peralatan telegraf.