Ketika Dinasti Politik Terpeleset ke Lumpur yang Mereka Gali Sendiri

Ilustrasi. (poto/net).

Penulis: Sabar Mangadoe

Satuju.com - Setelah Presiden Soeharto tumbang pada 1998, sisa kekuatan lama itu ternyata tidak ikut runtuh. Mereka justru membangun apa yang saya sebut sebagai Konspirasi Jahat Setan Kuning—gabungan Neo-Orba Network dan Golkar Connection—yang berkelindan dengan kepentingan negara-negara Nekolim (NATO Plus).

Dengan cara yang jauh lebih halus, modern, dan sistematis, kelompok ini menjalankan praktik penjajahan dan penjarahan terhadap Republik Indonesia. Dampaknya dalam dua dekade terakhir justru lebih brutal dan lebih tak terbayangkan dibanding era sebelumnya.

Era 20 Tahun yang Memperparah Kerusakan

Kerusakan itu berlangsung dalam dua fase:

1. 10 tahun rezim SBY, yang ditandai stagnasi, inefisiensi, dan berbagai kegagalan struktural; kemudian

2. 10 tahun rezim Dinasti Politik Jokowi, yang memperparah situasi secara berlipat ganda.

Salah satu ironi yang patut dicatat adalah reputasi internasional. Selama dua periode pemerintahan SBY, ia tidak pernah masuk dalam kategori pemimpin terkorup atau pelaku kejahatan terorganisir dunia.

Namun dalam satu dekade Jokowi berkuasa, Indonesia justru tercatat menempati peringkat dua dunia dalam kategori tersebut—sebuah prestasi kelam yang mengundang tanda tanya besar.

Fenomena “TerMul”: Terpolarisasi atau Terbayar?

Di tengah situasi itu, ada kabar baik. Ternyata jumlah TerMul Gratisan (pendukung fanatik yang bersuara tanpa dibayar) kini hanya sekitar 7%. Sisanya yang terlihat “ramai” di media dan media sosial sebagian besar merupakan TerMul Berbayar—gerombolan yang sengaja menciptakan kegaduhan demi mempertahankan citra kekuasaan.

Karena itulah, semakin ke sini Jokowi justru tampak tenggelam dalam kubangan lumpur yang ia buat sendiri. Beban politik, masalah hukum, dan warisan ekonomi yang rapuh mulai menjeratnya dari segala arah.

Arah Angin Politik Baru

Dengan konfigurasi politik yang berubah cepat, tak berlebihan jika dikatakan bahwa Jokowi dan Gibran akan tamat lebih cepat dari dugaan banyak orang. Awal 2026, situasinya akan terasa semakin jelas.

Prabowo pun, dalam gaya khasnya, meneriakkan “Hidup Jokowi!”
Namun seperti biasa, ia piawai menggunakan jurus politik “sein kiri, belok kanan”.

Maknanya jelas—dan pahit bagi sebagian pihak:

“Jokowi–Gibran? Sudahlah… selesai!”

Udah, segitu dulu. Lanjut besok kalau masih rame.