Hutan yang Tumbang, Topeng yang Tegak
Ilustrasi. (poto/Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Di panggung kekuasaan yang selalu silau, suara yang paling nyaring kerap bukanlah kebijaksanaan, melainkan tepuk tangan—patah, berulang, dan patuh.
Bagi pemimpin yang terlalu lama jatuh cinta pada bayangannya sendiri, riuh itu adalah detak jantung. Ia lupa bahwa tepuk tangan tak selalu lahir dari kagum; kadang ia tumbuh dari takut, dari perut yang lapar, dan dari kebiasaan menghamba yang diwariskan turun-temurun, dari satu singgasana ke singgasana berikutnya.
Pelan, nyaris tak terasa, sebuah tatanan rapuh pun dibangun.
Keserakahan tak lagi disembunyikan, melainkan dinormalkan. Ambisi yang kehilangan mata hati bersua dengan narsisme yang tak pernah kenyang. Pohon-pohon tua—pasak bumi yang setia—dicabut satu per satu demi angka di layar rekening. Izin diteken di ruang berpendingin udara yang wangi, sementara di hulu sana tanah telanjang mulai kehilangan genggaman, menunggu waktu untuk meluncur dan menagih janji alam.
Ketika tanda-tanda kehancuran mulai berbicara—hujan yang tak lagi ramah, sungai yang mendangkal, bukit-bukit yang botak—sang pemimpin memilih memejamkan mata.
Bukan karena ia tak tahu, melainkan karena kebenaran itu terlalu kotor bagi citra yang ia poles setiap hari. Peringatan alam baginya hanyalah gangguan kecil. Di sekelilingnya, para penjaga ilusi bekerja tanpa lelah, merapikan kata “pembangunan”, menutup retakan fondasi negeri yang perlahan digerus arus.
Lalu suatu hari, langit benar-benar runtuh bersama tanah.
Banjir bandang datang membawa lumpur pekat dan gelondongan kayu—sisa-sisa hutan yang dicabut tanpa doa. Rumah-rumah hancur. Jerit pecah. Dan dosa-dosa keserakahan dari hulu turun tanpa bisa dibendung.
Di saat itulah sang pemimpin hadir.
Bukan sebagai penebus, melainkan sebagai aktor yang telah hafal perannya.
Ia mengenakan topeng empati. Celana digulung rapi. Kamera menyala. Ia berdiri di tengah lumpur, menatap nanar ke arah reruntuhan, dibingkai seolah dialah sang “Malaikat Penyelamat”.
Ironi itu menyayat tanpa suara.
Ia mengulurkan tangan kepada mereka yang tenggelam oleh air bah yang ia izinkan sendiri jalannya. Ia membasuh lumpur di wajah rakyat, padahal dialah yang mencabut akar-akar pelindung mereka. Ia mencuci tangan di air keruh yang ia ciptakan sendiri.
Ia ibarat kayu yang mengapung di tengah banjir.
Banyak yang berpegangan padanya, bukan karena hormat, melainkan karena takut tenggelam. Dan seperti kesetiaan yang lahir dari rasa lapar, pegangan itu rapuh—ia bertahan hanya selama sang tuan masih mampu memberi makan di tengah bencana.
Sejarah memang berjalan lebih lambat dari arus lumpur.
Namun ingatannya purba.
Kelak, ketika air surut dan lumpur mengering menjadi debu, jejak kerusakan itu akan terlihat telanjang. Saat lampu sorot padam, topeng itu akan retak. Kebenaran akan berdiri tegak—seperti tunggak-tunggak mati di hutan yang gundul, tak bisa lagi disangkal.
Saat itulah sang “Malaikat” akan tersadar di ruang hampa, ditinggalkan sendirian oleh pujian-pujian palsu yang dulu menghanyutkannya.
Dan kita pun belajar, dengan kesedihan yang masih basah: Pemimpin sejati tak lahir dari sorak-sorai saat matahari bersinar, melainkan dari keberanian menjaga hutan tetap tegak sebelum air mata dan air bah tumpah bersamaan.

