Ketika Jasad Firaun Menjadi Jalan Hidayah Seorang Ilmuwan
Ilustrasi. (poto Ai)
Satuju.com - Di sebuah laboratorium penelitian modern di Mesir, seorang ilmuwan forensik sekaligus arkeolog berdiri terpaku menatap jasad yang telah dibekukan oleh waktu. Di hadapannya terbaring jasad Fir’aun—penguasa Mesir kuno yang ribuan tahun silam mengaku dirinya sebagai tuhan.
Ilmuwan itu bukan seorang Muslim. Sepanjang hidupnya, ia terbiasa memandang sains sebagai kebenaran objektif, sementara agama ia anggap sebatas keyakinan subjektif. Namun hari itu, di hadapan jasad berusia lebih dari tiga ribu tahun, keyakinannya mulai goyah.
Penelitian yang Mengguncang Akal
Dengan teknologi modern seperti CT scan, analisis jaringan, dan pemeriksaan mikroskopis, ia bersama timnya meneliti kondisi jasad Fir’aun. Hasilnya menimbulkan banyak tanda tanya.
Struktur tulang dada menunjukkan tekanan air yang sangat kuat. Paru-paru memperlihatkan indikasi kematian akibat tenggelam. Yang lebih mengejutkan, jasad tersebut tidak menunjukkan tingkat pembusukan ekstrem sebagaimana jasad lain yang seusianya sebanding. Tubuh itu terawetkan secara tidak lazim, seolah dijaga dari kehancuran total.
“Secara ilmiah, jasad ini seharusnya sudah hancur,” gumam sang ilmuwan.
Namun sebagai seorang saintis, ia masih menahan diri untuk menarik kesimpulan di luar kerangka ilmiah.
Hingga suatu hari, seorang rekan kerjanya yang beragama Islam dengan tenang menyodorkan Al-Qur’an terjemahan.
“Bacalah ayat ini, hanya sebagai referensi sejarah,” ujarnya singkat.
Ayat yang Menggetarkan
Ilmuwan itu membaca ayat tersebut perlahan. Wajahnya berubah, tangannya mulai bergetar.
Allah SWT berfirman:
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (jasadmu), agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu.”
(QS. Yunus: 92)
Ia terdiam lama. Ayat itu tidak berbicara tentang keselamatan ruh Fir’aun, bukan pula tentang namanya, melainkan secara spesifik menyebut jasadnya.
Seketika ia tersadar: Al-Qur’an telah menyebutkan kondisi jasad Fir’aun lebih dari 1.400 tahun sebelum jasad itu ditemukan dan diteliti dengan teknologi modern.
Pergulatan Batin Seorang Ilmuwan
Malam itu, ia tidak mampu memejamkan mata. Ia membuka kembali catatan penelitiannya, lalu membaca kisah Fir’aun dalam Al-Qur’an: tentang kesombongannya, pengakuannya sebagai tuhan, penindasannya terhadap Bani Israil, hingga kematiannya di laut.
Ia membaca ayat ketika Fir’aun berkata saat tenggelam:
“Aku beriman bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhan yang diimani oleh Bani Israil.” (QS. Yunus: 90)
Namun keimanan itu datang terlambat.
Dalam keheningan malam, ia berbisik pada dirinya sendiri, “Fir’aun beriman saat ajal menjemput… sedangkan aku masih hidup.”
Tanpa disadari, air mata menetes.
Syahadat di Ruang Sunyi
Beberapa hari kemudian, di sebuah ruangan kecil yang sunyi, ia meminta seorang Muslim membimbingnya. Dengan suara bergetar, ia mengucapkan dua kalimat syahadat:
Asyhadu an lā ilāha illallāh, wa asyhadu anna Muḥammadar rasūlullāh.
Keputusannya bukan karena legenda atau dongeng, melainkan karena fakta yang tidak mampu ia bantah dengan sains.
“Fir’aun diawetkan untukku,” ujarnya lirih,
“agar aku tidak mengulang kesalahannya.”
Pelajaran dari Jasad yang Membisu
Kini, jasad Fir’aun terbaring di museum—membisu, namun seolah berbicara lebih lantang daripada ribuan kata. Ia menjadi pengingat bahwa kekuasaan tidak menyelamatkan, ilmu tanpa iman tidaklah cukup, dan kebenaran Allah akan tetap tampak meski ribuan tahun berlalu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan hidupnya.”
(HR. Muslim)
Fir’aun hidup dalam kesombongan, dan jasadnya menjadi pelajaran bagi umat manusia sepanjang zaman.
Renungan
Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan justru menjadi bukti keberadaan Tuhan. Jasadnya tak hancur agar hati manusia tidak membatu.
Dan seorang ilmuwan akhirnya menemukan kebenaran—bukan di balik mikroskop, melainkan di dalam ayat-ayat Allah.

