Riau di Persimpangan Jalan: Saat Sang Raksasa Menentukan Arah

Riau

Oleh : Badar Belantara, (Warga Riau bermastautin di Jakarta) Latar Belakang

Satuju.com - Seiring tenggelamnya matahari di penghujung tahun 2025, Provinsi Riau berdiri di persimpangan jalan yang krusial. Provinsi yang secara geografis berada di jantung Pulau Sumatera ini, meski menyandang predikat sebagai "lumbung energi" nasional dengan kekayaan minyak dan sawit yang melimpah, nyatanya masih harus meratapi nasibnya yang kontradiktif. Tahun ini menjadi saksi betapa Riau masih terbelit dalam pusaran masalah kronis yang menguji daya tahan masyarakatnya.

Melihat Riau setahun ke belakang seperti melihat raksasa dengan kaki yang terikat rantai besi. Salah satu masalah utama adalah kondisi keuangan daerah yang mengalami defisit anggaran dan turunnya DBH. Sangat ironis, di tengah potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang seharusnya bisa ditarik dari ribuan hektar perkebunan dan industri manufaktur, realisasinya justru jauh dari kata maksimal. Kebocoran pajak dan retribusi seolah menjadi lubang menganga yang tak kunjung tertutup dan teratasi.

Kondisi fiskal yang ringkih ini berdampak langsung pada nadi kehidupan masyarakat, infrastruktur. di berbagai pelosok Riau, jalan-jalan berlubang dan jembatan yang tak layak huni menjadi pemandangan sehari-hari, menghambat distribusi logistik dan mematikan ekonomi rakyat kecil. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Riau cenderung stagnan ditengah naiknya jumlah angkatan kerja. Angka statistik mungkin menunjukkan pertumbuhan, namun di lapangan, daya beli masyarakat melambat dan ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas global masih sangat tinggi.

Dan diatas semua itu Pukulan terberat bagi marwah daerah adalah guncangan pada aspek integritas. Kasus hukum yang menjerat Gubernur definitif menciptakan kekosongan kepemimpinan politik dan administratif, sekaligus menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Birokrasi sempat terasa gamang, dan arah kebijakan seolah kehilangan kompas, kegamangan itu terlihat jelas tidak ada keputusan yang jelas, tidak ada kordinasi apalagi implementasi pembangunan di lapangan, akibatnya mudah ditebak masyarakat tergagap tidak tahu mau mengadu kemana.

Paradoks Sang Raksasa

Metafora "raksasa yang kakinya terikat rantai besi" adalah potret paling akurat untuk menggambarkan paradoks ekonomi Provinsi Riau setahun terakhir. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana sebuah daerah memiliki potensi kekuatan ekonomi yang luar biasa (sang raksasa), namun terhambat oleh masalah internal yang diciptakan atau dibiarkan oleh sistemnya sendiri (rantai), sehingga kesejahteraan yang diharapkan oleh masyarakatnya tidak kunjung datang.

Perekonomian Riau mengalami stagnasi yang mengkhawatirkan, Di saat hamparan kebun kelapa sawit terluas di Indonesia dan produksi migas yang masif, sebagai penyumbang ekonomi Nasional mesin ekonomi daerah justru kehilangan tenaga. Salah satu penyebab masalah akut ini adalah defisit anggaran dan turunnya DBH serta lemahnya tata kelola penerimaan sumber PAD, provinsi yang menyumbang devisa masif untuk negara ini justru kesulitan mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Rantai itu semakin terasa berat ketika bicara soal infrastruktur khususnya jalan dan jembatan sebagai urat nadi perekonomian, bicara soal inefisiensi birokasi yang membuat masyarakat seperti tidak terlayani, masalah integritas dan tata kelola yang menjadi kasus hukum dengan menjerat pimpinan daerah dan masalah Human capital yaitu terjadinya kesenjangan pendidikan dan kompetensi dengan dunia kerja selain memang tidak seimbangnya antara tingkat pertumbuhan ekonomi dengan tingkat pertumbuhan angkatan kerja itu sendiri dan Rantai yang harus diputuskan.

Selama ini Riau telah terbelenggu rantai di atas singgasana minyak dan sawit, maka tahun 2026 harus menjadi momentum di mana denting besi rantai patah itu terdengar hingga ke pelosok Negeri. Memutuskan rantai yang mengikat sang raksasa bukan sekadar urusan teknis birokrasi, melainkan sebuah perjuangan merebut kembali kedaulatan ekonomi dari jerat inefisiensi yang telah berkarat.

Rantai pertama yang harus diputus adalah kerapuhan fiskal. Ibarat raksasa yang memiliki lumbung padi yang luas namun mati kelaparan karena kunci lumbungnya dipegang pihak lain, Riau harus berani merebut kembali "kunci" itu melalui optimalisasi PAD, dengan harapan, Tim Optimalisasi PAD yang telah dibentuk bukan sekadar menjadi petugas penagih utang, melainkan "pandai besi" yang mampu menempa sistem perpajakan daerah yang handal dan kedap bocor. maka saat itulah sang raksasa mulai mandiri
Rantai kedua yang selama ini melilit pergelangan kaki sang raksasa adalah BUMD yang tidak produktif ibarat seperti benalu yang mengisap energi dari batang pohon yang seharusnya ia lindungi.

Keberanian merombak susunan direksi harus berlanjut menjadi transformasi budaya kerja, sudah lama publik memiliki harapan Harapan untuk melihat BUMD Riau bermetamorfosis menjadi motor penggerak investasi, bukan sekadar "panti jompo" bagi kepentingan politik pasca-kontestasi. Masyarakat merindukan BUMD yang mampu mengolah sawit menjadi minyak goreng sendiri, atau mengelola energi menjadi listrik murah bagi warganya. Memutus rantai inefisiensi ini akan memberikan sang raksasa tenaga baru untuk berdiri tegak.

Rantai ketiga adalah memutus rantai ketidaktahuan/kebodohan dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas Human Capital. Kekayaan alam suatu saat akan habis minyak akan mengering dan lahan akan jenuh. Namun, intelektualitas adalah sumber daya yang tak terbatas, Harapan masyarakat adalah melihat Riau tumbuh menjadi pusat gravitasi pendidikan di Sumatera.

Dengan kepastian lahan, riset-riset inovatif tentang lahan gambut, hilirisasi sawit, dan teknologi hijau harus lahir dari rahim Bumi Melayu adalah satu keniscayaan. Ini adalah upaya memastikan bahwa ketika sang raksasa melangkah nanti, ia tidak hanya melangkah dengan otot yang kuat, tetapi juga dengan visi dan pikiran yang tajam.

Tapi bagaimana cara memutus rantai sang raksasa tersebut ? ya memutuskan rantai sang raksasa memerlukan sebuah "Pedang Keadilan" yang ditempa dari dua unsur utama Pemimpin yang berani dan berintegritas serta Partisipasi Rakyat, Kepemimpinan yang berani dan berintegritas adalah gagang pedangnya, sementara pengawasan rakyat yang kritis adalah mata pedangnya. Tanpa keberanian dan integritas pedang itu akan tumpul, tanpa dukungan rakyat pedang itu akan terlalu berat untuk diayunkan, dua syarat tersebut akan menjadi fajar harapan.

Fajar Harapan : Kepemimpinan yang berani dan berintegritas

Melihat rentetan kebijakan Plt Gubri yang out-of-the-box di akhir tahun 2025 seperti membentuk tim optimalisasi pendapatan, kemudian keberanian untuk memberhentikan Dirut salah satu BUMD, serta pemberian hibah lahan UNRI oleh Pemrov Riau yang sudah puluhan tahun mandek dan menyebabkan UNRI tidak bisa membuat perencanaan strategis menuju Universitas Riset dalam membentuk SDM unggul, maka di awal tahun 2026 ini muncul secercah harapan di hati masyarakat Riau,

Masyarakat kini mulai melihat Plt Gubri sebagai pemimpin yang berani mengambil risiko untuk kepentingan publik dan diharapkan berlanjut ke tahun-tahun depan, tidak bersifat "hangat-hangat tahi ayam" atau pencitraan sesaat, melainkan awal dari sistem tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan.

Harapan masyarakat Riau saat ini sederhana saja, pertama keberlanjutan Perbaikan sistem tata kelola pelayanan publik seperti peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan layanan kesehatan serta kemudahan sistem perizinan, Kedua pemulihan Infrastruktur jalan dan jembatan sebagai urat nadi perekonomian dan Ketiga stabilitas ekonomi dimana kekayaan alam Riau benar-benar terkonversi menjadi kesejahteraan yang merata yang banyak menyerap tenaga kerja, bukan hanya menumpuk di segelintir korporasi atau pengusaha.

Menutup tahun ini, Riau memang belum sepenuhnya sembuh dari lukanya. Namun, dengan keberanian melakukan otokritik dan perombakan sistemik yang telah dimulai, Bumi Lancang Kuning punya alasan untuk tetap tegak berdiri. Kepemimpinan yang berani mendobrak status quo adalah kado akhir tahun yang setidaknya mampu menghapus sedikit rasa skeptis warga terhadap masa depan provinsinya, Semoga di tahun mendatang, Riau tidak lagi hanya kaya di atas kertas, tapi juga jaya dalam realitas.