Cerita Jenazah yang Menunggu Tanggung Jawab Dunia
Ilustrasi. (poto Ai)
Satuju.com - Madinah pagi itu tampak seperti hari-hari biasa. Angin berhembus pelan di antara rumah-rumah kaum Anshar. Langit cerah, seolah tak memberi isyarat duka yang akan datang.
Namun langkah kaki para sahabat menuju masjid terasa lebih berat dari biasanya.
Di hadapan mereka terbujur sebuah jenazah. Tubuhnya terbungkus kain kafan sederhana. Wajahnya tak terlihat, tetapi semua orang tahu:
Ia seorang muslim.
Ia mengucapkan syahadat.
Ia shalat bersama Rasulullah.
Ia wafat dalam keadaan Islam.
Sebagaimana kebiasaan, jenazah itu dibawa ke hadapan Rasulullah ﷺ untuk dishalatkan.
Rasulullah berdiri.
Wajah beliau teduh, tetapi sorot matanya tampak serius. Beliau tidak segera mengangkat tangan.
Dengan suara tenang yang menghentak hati, beliau bertanya,
“Apakah ia meninggalkan utang?”
Para sahabat saling berpandangan.
Hening sejenak.
Salah seorang menjawab lirih,
“Ya, wahai Rasulullah… ia meninggalkan utang.”
Rasulullah bertanya lagi,
“Berapa?”
“Dua dinar.”
Dua dinar.
Jumlah yang kecil bagi sebagian orang. Namun seketika, wajah Rasulullah berubah.
Beliau menundukkan kepala, lalu bersabda dengan kalimat yang membuat para sahabat terdiam:
“Shallû ‘alâ shâhibikum.”
“Shalatkanlah oleh kalian jenazah sahabat kalian ini.”
Bukan karena beliau sibuk.
Bukan karena beliau marah.
Bukan pula karena beliau membenci orang itu.
Namun Rasulullah menolak menshalatkannya.
Masjid mendadak sunyi. Hati para sahabat bergetar. Padahal Rasulullah adalah manusia paling penyayang, yang selalu mendoakan umatnya, bahkan menangis memikirkan keselamatan mereka.
Tetapi hari itu, beliau mundur selangkah. Doa beliau tertahan.
Bukan karena zina.
Bukan karena pembunuhan.
Bukan karena kekufuran.
Melainkan karena utang.
Jenazah itu tetap terbaring, seakan menunggu satu urusan dunia yang belum selesai. Saat itulah Abu Qatadah رضي الله عنه melangkah maju.
Hatinya tak tega melihat jenazah itu tertahan. Ia berkata tegas,
“Wahai Rasulullah, utangnya menjadi tanggunganku.”
Rasulullah menatapnya,
“Apakah engkau benar-benar akan menanggungnya?”
“Ya, wahai Rasulullah.”
Barulah Rasulullah maju kembali. Beliau berdiri di hadapan jenazah, mengangkat kedua tangan, dan menshalatkannya.
Namun kisah itu belum berakhir.
Beberapa waktu kemudian, Rasulullah bertemu Abu Qatadah dan bertanya,
“Bagaimana dengan dua dinar itu?”
Abu Qatadah menjawab,
“Belum aku lunasi, wahai Rasulullah.”
Wajah Rasulullah kembali serius. Beliau bersabda,
“Ia masih tertahan karenanya.”
Beberapa hari kemudian, Abu Qatadah datang lagi dan berkata,
“Wahai Rasulullah, utangnya telah aku lunasi.”
Maka Rasulullah bersabda dengan kalimat yang mengguncang jiwa,
“Sekarang kulitnya telah dingin.”
Seakan baru saat itu jenazah tersebut benar-benar beristirahat.
Baru saat itu bebannya terangkat.
Baru saat itu doanya naik ke langit dengan tenang.
Pelajaran yang Membuat Hati Gemetar
Rasulullah tidak mengajarkan bahwa utang itu haram.
Namun beliau mengajarkan bahwa utang itu berat.
Berat hingga menahan doa Rasulullah.
Berat hingga menunda ketenangan jenazah.
Berat hingga menghambat kelegaan di alam kubur.
Kisah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan:
Utang bukan sekadar urusan dunia.
Ia bisa menjadi beban hingga akhirat.
Diriwayatkan dalam sejumlah hadis sahih, di antaranya dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Riwayat serupa juga terdapat dalam Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, dan Muwaththa’ Malik.

