Buka Jalan ke Energi Bersih, Matahari Buatan China Tembus Batas Mustahil
Matahari Buatan China
Jakarta, Satuju.com - Tonggak baru dicapai Reaktor fusi China atau disebut Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST).
Proyek yang lebih dikenal sebagai Matahari buatan dari China itu berhasil menjalankan plasma dengan tingkat kepadatan yang selama puluhan tahun dianggap mustahil.
Dalam eksperimen terbaru, EAST mampu menjaga plasma tetap stabil pada kepadatan 1,3 hingga 1,65 kali di atas batas Greenwald.
Teori ini selama ini menjadi patokan batas aman bagi reaktor tokamak di seluruh dunia.
Mesin tokamak dalam reaktor fusi, secara umum bekerja dengan cara mengurung gas superpanas (plasma) menggunakan medan magnet.
Di dalam plasma inilah, inti atom bertumbukan dan menghasilkan energi fusi, yaitu jenis energi yang sama seperti yang terjadi di Matahari.
Agar reaksi fusi berjalan efektif, plasma harus sangat panas dan cukup padat. Semakin banyak partikel di dalam plasma, semakin sering tumbukan terjadi.
Sebagai informasi, reaksi fusi yang paling umum diteliti saat ini yaitu bahwa jumlah energi yang dihasilkan meningkat dan sebanding dengan kuadrat kepadatan plasma.
Singkatnya, sedikit kenaikan kepadatan bisa menghasilkan lonjakan energi yang besar.
Namun masalahnya, kepadatan plasma yang terlalu tinggi juga berisiko membuat tokamak jadi kurang stabil.
Ketika ini terjadi, komponen reaktor bisa rusak hingga operasi yang berjalan berhenti mendadak. Karena itu, batas Greenwald dibuat sebagai panduan aman bagi reaktor tokamak.
Yang menarik, EAST tidak hanya melampaui batas Greenwald sesaat. Tim peneliti melaporkan bahwa plasma EAST tetap stabil dan terkendali meski dijalankan jauh di atas batas tersebut.
Dalam eksperimennya, EAST menggunakan teknik pemanasan tambahan sejak awal pembentukan plasma dan mengatur jumlah gas awal dengan cermat.
Pendekatan ini membantu menjaga bagian tepi plasma yang paling rentan terhadap gangguan, agar tidak terlalu dingin atau tidak stabil.
Peneliti EAST juga menyoroti pentingnya hubungan antara plasma dan dinding reaktor. Menurut pengamatan peneliti, plasma tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berinteraksi dengan permukaan di sekitarnya.
Jika interaksi ini dikelola dengan baik, plasma dan dinding bisa mencapai kondisi yang relatif seimbang. Dalam kondisi inilah, batas kepadatan lama bisa meningkat tanpa langsung memicu gangguan besar.

