CEOR Lapangan Minas Disorot Praktisi Migas: Antara Ambisi Kedaulatan Energi dan Realitas Reservoir

Ilustrasi. (poto/net).

Pekanbaru, Satuju.com — Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Minas, Riau, kembali menjadi sorotan. Di tengah narasi pemerintah yang kerap mengaitkan proyek tersebut dengan simbol keberanian dan kedaulatan energi nasional, seorang praktisi perminyakan asal Riau yang bermukim di Kuwait, Ustazul Chair, mengingatkan publik agar melihat CEOR secara lebih objektif dan berbasis sains reservoir, bukan sekadar jargon nasionalisme.

Dalam tulisan analisanya yang beredar luas, Ustazul Chair menilai penggambaran CEOR sebagai “ujian keberanian energi nasional” berpotensi menyesatkan jika tidak disertai pemahaman teknis yang memadai. Menurutnya, teknologi CEOR bukanlah slogan politik, melainkan disiplin teknik perminyakan yang sangat kompleks dan sarat risiko.

“CEOR tidak berbicara nasionalisme, tetapi fisika dan kimia di skala mikro pori batuan,” tulisnya. 6 Januari 2026 diterima redaksi satuju.com.

Ia menjelaskan bahwa CEOR bukan teknologi tunggal, melainkan kombinasi polimer, surfaktan, dan alkali (ASP) yang harus dirancang sangat spesifik sesuai karakter reservoir. Polimer berfungsi meningkatkan viskositas air injeksi, surfaktan menurunkan tegangan antarmuka minyak dan air, sementara alkali membentuk surfaktan secara in-situ. Seluruh proses tersebut terjadi di tingkat mikro pori, yang tidak bisa disederhanakan hanya melalui grafik kenaikan produksi.

“Tanpa pemahaman rock–fluid interaction, wettability, adsorpsi, dan degradasi kimia, CEOR hanyalah cairan mahal yang hilang di bawah tanah,” tegasnya.

Tantangan Lapangan Minas

Menurut Ustazul Chair, Lapangan Minas bukanlah “reservoir laboratorium” yang homogen dan bersih. Sebagai lapangan tua dengan sejarah panjang waterflood, Minas memiliki heterogenitas vertikal dan horizontal yang tinggi, banyak thief zone, serta fenomena channeling.

Dalam kondisi tersebut, tantangan CEOR justru semakin besar, mulai dari adsorpsi surfaktan pada batuan yang menggerus efektivitas, degradasi polimer akibat temperatur dan salinitas, hingga ketidaksesuaian antara hasil uji laboratorium (coreflood) dengan kondisi lapangan sesungguhnya.

“Jika tantangan ini dipahami, CEOR tidak akan diangkat sebagai simbol nasionalisme, melainkan sebagai perjudian teknis dengan risiko besar,” ujarnya.

Belajar dari Pengalaman Global

Ia juga mengingatkan agar Indonesia belajar dari proyek CEOR di berbagai negara seperti Daqing (China), Pelican Lake (Kanada), dan Texas (Amerika Serikat). Proyek-proyek tersebut, kata dia, menghadapi masalah serius seperti plugging, scaling, penurunan injectivity, dan memerlukan puluhan tahun trial and error. Bahkan, secara ekonomi, CEOR umumnya hanya layak saat harga minyak tinggi.

Namun, dalam narasi pro-CEOR yang berkembang, teknologi ini kerap digambarkan sebagai solusi instan (one-shot solution), tanpa pembahasan kritis mengenai biaya bahan kimia, kelayakan full-field scaling, serta apakah tambahan produksi benar-benar berasal dari displaced oil atau sekadar percepatan produksi.

“Yang dirayakan bukan sains reservoir, tetapi rangkaian janji keberhasilan,” sindirnya.

Peringatan Akademisi

Ustazul Chair juga mengutip pandangan seorang Guru Besar Teknik Perminyakan ITB yang menekankan bahwa EOR tidak identik dengan CEOR. Selain chemical EOR, terdapat metode lain seperti CO₂ EOR, smart water, hingga low salinity water EOR yang lebih sederhana.

“Chemical itu barang asing bagi reservoir. Ia bisa incompatible, bereaksi membentuk senyawa lain, bahkan merusak mekanisme alami reservoir,” ujar akademisi tersebut.

Menurutnya, chemical EOR sangat bersifat lokal, bergantung pada tekanan, temperatur, dan komposisi kimia yang spesifik. Bahkan dalam satu reservoir, kondisi lapisan atas dan bawah bisa berbeda, sehingga membutuhkan perhitungan dan simulasi teknis yang sangat detail.

Masalah stabilitas termal juga disebut jarang dibahas dalam presentasi proyek. Pada temperatur tinggi, chemical dapat terdegradasi, yang secara ilmiah menarik, namun sering kali tidak masuk akal secara bisnis.

Ketergantungan Impor

Isu lain yang disoroti adalah ketergantungan pada impor bahan kimia. Jika CEOR diklaim sebagai simbol kedaulatan energi, Ustazul Chair mempertanyakan di mana letak kedaulatan tersebut ketika formula, bahan baku, dan stabilitas kimia masih bergantung pada luar negeri.

“Ujung-ujungnya membeli chemical impor, dan proyek menjadi mahal kembali,” tulisnya.

Seruan Kerendahan Hati Teknik

Meski kritis, Ustazul Chair menegaskan bahwa CEOR di Lapangan Minas bukanlah ide yang memalukan. Bahkan, teknologi tersebut bisa menjadi salah satu opsi terakhir bagi lapangan tua raksasa seperti Minas. Namun, ia menekankan bahwa CEOR seharusnya diposisikan sebagai simbol kerendahan hati teknik, bukan keberanian retoris.

“Keberanian sejati bukan mengatakan proyek ini pasti sukses, tetapi berani mengakui bahwa kita belum tahu hasilnya, dan siap diuji oleh data, bukan oleh narasi,” katanya.

Ia menutup tulisannya dengan peringatan bahwa jika CEOR dijalankan dengan disiplin ilmiah, transparansi terhadap kegagalan, dan kesabaran engineering, proyek ini dapat menjadi warisan teknologi nasional. Sebaliknya, jika hanya dijadikan alat glorifikasi, CEOR Minas berisiko dikenang sebagai contoh bagaimana nasionalisme menutupi ketidaksiapan teknis.

“CEOR bukan slogan. Ia adalah pertaruhan sains yang hanya bisa dimenangkan dengan kerendahan hati teknikal,” pungkasnya.