Venezuela, Amerika dan Ancaman Runtuhnya Hukum Internasional
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Dr. Erta Priadi Wirawija
Satuju.com - Semalam dunia terasa aneh. Timeline penuh kabar yang bikin orang berhenti scroll lalu membaca ulang pelan-pelan. Amerika Serikat dilaporkan melakukan serangan militer ke Venezuela, lalu menangkap presiden negara tersebut dan membawanya ke Amerika Serikat. Sebuah peristiwa yang—jujur saja—kalau dibaca sepuluh tahun lalu, mungkin akan kita anggap sebagai teori konspirasi murahan.
Kalau laporan ini benar, maka kita sedang menyaksikan sesuatu yang sangat serius. Bukan hanya soal Venezuela, bukan hanya soal Amerika, tapi soal arah dunia. Karena menyerang negara berdaulat lalu menangkap kepala negaranya bukan perkara kecil. Ini bukan operasi polisi lintas negara. Ini pernyataan kekuasaan.
Yang membuat saya gelisah, alasan yang dipakai terdengar familiar: tuduhan peredaran narkotika ke Amerika Serikat. Tuduhan yang—sepanjang pengetahuan publik—belum pernah diuji dan dibuktikan di pengadilan internasional. Tapi kali ini, tampaknya pengadilan tidak lagi menjadi prasyarat. Cukup tuduhan, cukup kekuatan, lalu bertindak.
Masalahnya, setelah Perang Dunia II, dunia sepakat membangun sistem agar hal seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Kita punya PBB. Kita punya Piagam PBB. Kita punya hukum internasional. Intinya satu: tidak ada negara yang boleh menyerang negara lain secara sepihak, apalagi menangkap kepala negaranya, tanpa mandat kolektif.
Yang membuat situasi ini makin janggal adalah fakta bahwa tindakan tersebut—menurut pemberitaan—dilakukan berdasarkan keputusan eksekutif presiden Amerika sendiri, bukan mandat Kongres, bukan resolusi PBB. Artinya, satu orang bisa memutuskan untuk menyerang negara lain. Kalau ini dianggap sah, maka dunia resmi masuk era baru: era kekuasaan pribadi bersenjata negara.
Biasanya, Amerika tidak bertindak sefrontal ini. Sejarah menunjukkan pola yang lebih “halus”: mendukung oposisi, membiayai pemberontakan, perang proksi, sanksi ekonomi, operasi rahasia. Tapi kali ini, kalau laporan itu benar, maskernya dilepas. Angkatan bersenjata turun langsung, presiden negara lain ditangkap, selesai.
Kalau operasinya bisa berjalan semulus itu, satu hal hampir pasti: ada pembelotan dari dalam. Tidak ada operasi sekelas ini yang berhasil tanpa intelijen internal, tanpa mata-mata, tanpa orang-orang yang “berpindah kesetiaan”. Dan ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi banyak negara—bahwa kedaulatan hari ini bukan hanya soal militer, tapi soal siapa yang duduk di dalam sistem kita.
Lalu pertanyaan klasik muncul: kenapa Venezuela?
Jawabannya hampir klise: minyak. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Selama bertahun-tahun, potensi itu tidak tergarap maksimal karena keterbatasan teknologi dan sanksi. Ketika Venezuela mulai membuka diri pada Rusia dan Cina, itu bukan sekadar kerja sama ekonomi—itu alarm geopolitik.
Amerika Serikat secara historis tidak pernah nyaman dengan kekuatan besar lain bercokol di Amerika Selatan. Ini bukan soal ideologi, tapi zona pengaruh. Dari sudut pandang keamanan nasional Amerika, Venezuela yang terlalu dekat dengan Rusia atau Cina adalah masalah besar.
Di titik ini, saya mulai bertanya-tanya: apakah dunia sedang menyaksikan pembagian wilayah kekuasaan secara diam-diam?
- Cina fokus ke Taiwan.
- Rusia ke Ukraina.
- Amerika ke Amerika Latin.
Apakah ada kesepakatan tak tertulis? Tidak ada yang bisa membuktikan. Tapi yang menarik adalah sikap banyak negara besar yang relatif “tenang”. Cina terlihat lebih banyak diam. Rusia fokus pada urusannya sendiri. Seolah-olah ada pemahaman: kamu urus wilayahmu, saya urus wilayah saya.
Kalau ini benar, maka kita tidak sedang menuju dunia yang lebih aman, tapi dunia yang lebih jujur dalam kekerasannya. Tidak lagi berpura-pura menjunjung hukum, tapi terang-terangan mengandalkan kekuatan.
Yang paling menakutkan dari semua ini bukan Venezuela. Bukan Amerika. Tapi preseden. Kalau satu negara bisa menyerang dan menangkap kepala negara lain tanpa mandat internasional, lalu dunia membiarkannya, maka hukum internasional berubah dari aturan menjadi dekorasi.
Hari ini Venezuela. Besok siapa?
Kita hidup di dunia dengan senjata nuklir, drone otonom, dan teknologi perang yang semakin cepat. Di dunia seperti ini, sikap “koboi” bukan keberanian—itu undangan menuju bencana global.
Saya tidak menulis ini untuk menyimpulkan siapa benar siapa salah. Saya menulis ini karena saya khawatir. Khawatir bahwa dunia pelan-pelan meninggalkan hukum dan kembali ke hukum rimba, hanya dengan senjata yang lebih canggih.
Mudah-mudahan laporan ini tidak sepenuhnya benar. Mudah-mudahan masih ada rem.
Karena kalau tidak, maka kejadian semalam bukan sekadar berita internasional tapi tanda bahwa dunia sedang melangkah ke arah yang sangat berbahaya.
Dan seperti biasa, yang paling menderita nanti bukan para pengambil keputusan, melainkan rakyat biasa di mana pun mereka berada.

