Defisit APBN 2025 Melebar: Utang 2026 Membengkak, Rupiah Tertekan ke Rp16.800
Ilustrasi. (poto/net).
Jakarta, Satuju.com — Tekanan fiskal dan eksternal kembali membayangi perekonomian nasional. Pemerintah mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 melebar melampaui target, sementara kebutuhan pembiayaan melalui utang pada APBN 2026 meningkat signifikan. Di saat bersamaan, nilai tukar rupiah tertekan seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.
Hingga akhir Desember 2025, APBN membukukan defisit sebesar Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut melampaui outlook pemerintah sebesar 2,78 persen PDB maupun target awal APBN 2025 yang dipatok 2,53 persen PDB.
Dari sisi penerimaan, pendapatan negara tercatat mencapai Rp2.755,3 triliun, atau 91,7 persen dari target tahun berjalan sebesar Rp3.005,1 triliun. Sementara belanja negara terealisasi Rp3.451,4 triliun, setara 95,3 persen dari outlook belanja Rp3.621,3 triliun. Tingginya realisasi belanja di tengah pendapatan yang belum optimal turut mendorong pelebaran defisit fiskal.
Memasuki 2026, tekanan pembiayaan belum mereda. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN 2026, pemerintah menetapkan defisit yang akan dibiayai melalui pembiayaan anggaran sebesar Rp689,14 triliun. Untuk menutup defisit tersebut sekaligus membiayai investasi dan pemberian pinjaman, pemerintah menargetkan penarikan utang sebesar Rp832,20 triliun.
Pembiayaan anggaran APBN 2026 terdiri atas pembiayaan utang Rp832,20 triliun dan pembiayaan lainnya Rp60,4 triliun, dikurangi pembiayaan investasi Rp203,05 triliun serta pemberian pinjaman Rp404,15 miliar. Target penarikan utang ini tercantum dalam Pasal 23 UU APBN 2026.
Besaran utang tersebut lebih tinggi dibandingkan rencana awal dalam RAPBN 2026. Dalam Nota Keuangan RAPBN, pemerintah semula menargetkan pembiayaan anggaran Rp638,8 triliun, dengan penarikan utang Rp781,9 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya target defisit saat pembahasan akhir bersama DPR.
Di tengah dinamika fiskal tersebut, tekanan eksternal juga menguat. Nilai tukar dolar AS pada Kamis (8/1/2026) pagi menembus level Rp16.800 per dolar AS, menguat sekitar 20 poin atau 0,12 persen dibandingkan hari sebelumnya, berdasarkan data Bloomberg.
Penguatan dolar AS terjadi secara luas terhadap mata uang utama dunia. Dolar tercatat menguat terhadap yuan China, yen Jepang, euro, dolar Singapura, pound sterling, hingga dolar Australia. Secara rinci, dolar AS naik 0,12 persen terhadap yen Jepang, 0,15 persen terhadap dolar Singapura, serta masing-masing 0,12 persen terhadap dolar Australia dan 0,06 persen terhadap yuan China.
Kombinasi defisit fiskal yang melebar, kebutuhan utang yang meningkat, serta penguatan dolar AS menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi makro Indonesia ke depan, terutama dalam menjaga keseimbangan fiskal dan stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.

