Denni Hidayat Bedah Efek Dunning-Kruger dan Ilusi Kepercayaan Diri

Ilustrasi. (poto/net).

Jakarta, Satuju.com - Penulis dan pemerhati isu sosial, Denni Hidayat, mengulas fenomena psikologis yang dikenal sebagai Efek Dunning-Kruger sebagai gambaran paradoks kebodohan manusia—ketika ketidaktahuan justru melahirkan kepercayaan diri berlebihan, sementara kompetensi sering dibarengi keraguan diri.

Denni, warga Riau yang bermastautin di Jakarta, menjelaskan bahwa teori tersebut berakar dari sebuah kasus kriminal unik di Amerika Serikat pada 1995. Seorang pria bernama McArthur Wheeler nekat merampok dua bank di Pittsburgh pada siang hari tanpa menggunakan masker atau penyamaran.

“Kasus ini aneh sekaligus ironis. Wheeler sama sekali tidak berusaha menyembunyikan identitasnya karena ia yakin wajahnya tidak akan terekam kamera,” kata Denni dalam tulisannya.

Keyakinan Wheeler terbukti keliru. Polisi dengan mudah mengidentifikasinya melalui rekaman CCTV. Saat ditangkap dan diinterogasi, Wheeler justru terkejut.

“Ia mengatakan, ‘Tapi saya sudah memakai jusnya.’ Wheeler percaya bahwa mengoleskan jus lemon ke wajah akan membuatnya tak terlihat kamera, seperti tinta rahasia,” ujar Denni.

Menurut Denni, kombinasi ketidaktahuan ekstrem dan kepercayaan diri buta inilah yang kemudian menarik perhatian dua psikolog sosial, David Dunning dan Justin Kruger. Dari peristiwa tersebut, lahirlah teori Efek Dunning-Kruger yang kini banyak digunakan untuk menjelaskan bias kognitif dalam berbagai aspek kehidupan.

“Dunning dan Kruger ingin membuktikan bahwa orang yang tidak kompeten menanggung beban ganda: sering berbuat salah dan tidak memiliki kemampuan untuk menyadari kesalahannya sendiri,” jelasnya.

Denni menyebut, penelitian tersebut membuktikan bahwa pengetahuan untuk melakukan sesuatu dengan benar adalah pengetahuan yang sama untuk menilai kebenaran itu sendiri. “Inilah paradoksnya. Orang yang tidak tahu, juga tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu,” katanya.

Untuk mempermudah pemahaman, Denni menguraikan grafik Dunning-Kruger yang memetakan hubungan antara tingkat kompetensi dan kepercayaan diri manusia. Pada fase awal terdapat Peak of Mount Stupid, yakni kondisi ketika seseorang baru mengetahui sedikit hal namun merasa paling paham segalanya.

“Dalam budaya kita, ini seperti pepatah ‘tong kosong nyaring bunyinya’,” ujar Denni.

Setelah itu, seseorang akan memasuki Valley of Despair, fase ketika semakin banyak belajar justru membuat kepercayaan diri merosot karena sadar akan luas dan rumitnya suatu bidang.

“Di sini banyak orang patah semangat karena dihantam kegagalan dan kesadaran diri,” katanya.

Namun, Denni menekankan bahwa proses belajar yang berkelanjutan akan membawa seseorang ke fase Slope of Enlightenment. Pada tahap ini, kemampuan meningkat secara nyata dan kepercayaan diri tumbuh kembali secara perlahan, namun lebih realistis.

“Ini fase kedewasaan. Kepercayaan diri tidak lagi bersumber dari ilusi, tetapi dari kompetensi,” ucapnya.

Menutup tulisannya, Denni menegaskan bahwa Efek Dunning-Kruger bukan dimaksudkan untuk mengejek ketidaktahuan. Menurutnya, ketidaktahuan justru bisa menjadi bahan bakar awal untuk berani melangkah.

“Ketidaktahuan memberi keberanian buta untuk memulai. Itu tidak salah, asalkan tidak dijadikan tempat berhenti,” kata Denni.

Ia menambahkan, fase awal tersebut seharusnya dipahami sebagai pintu masuk ke proses pembelajaran dan continuous improvement.

“Ilusi karena tidak tahu akan runtuh dengan sendirinya ketika kita mau belajar. Di situlah manusia bergerak dari keberanian naif menuju pencerahan,” pungkasnya.