Kemenangan dalam Kekalahan: Rekam Jejak Eggi Sudjana

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: Lhynaa Marlinaa

Satuju.com - Subjek: Rekam Jejak Eggi Sudjana pada kasus Bambang Tri Mulyono

Status Kasus: The Tactical Retreat (Mundur Taktis)

Debu telah mengendap di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, namun jejak permainan catur Eggi Sudjana dalam kasus gugatan ijazah palsu Presiden Joko Widodo (2022) meninggalkan pola yang terlalu menarik untuk diabaikan. Publik melihatnya sebagai kekalahan hukum. Namun, jika dibedah dengan pisau bedah politik, ini adalah eksekusi strategi Psy-War yang nyaris sempurna: Pukul, Buat Gaduh, Lalu Lari sebelum Terbakar.
Berikut adalah bedah forensik alur strategi Eggi Sudjana dalam tiga babak drama ini.

BABAK I: SIMBIOSIS DAN SHOCK THERAPY

"Bensin dan Pemantik Api"

Mengapa pengacara sekelas Eggi Sudjana yang paham betul betapa sulitnya mematahkan validitas dokumen negara mau membela Bambang Tri Mulyono, penulis Jokowi Undercover? Jawabannya bukan pada hukum, melainkan pada Delegitimasi Simbolik.

Eggi membutuhkan "bensin" untuk menghidupkan mesin narasi "Jokowi Pembohong". Bambang Tri adalah bahan bakar itu. Sementara Eggi, memosisikan dirinya sebagai pemantik api.

Di fase ini, Eggi menerapkan taktik Shock Therapy. 

* Agresi Awal: Tampil garang menantang duel data bukan ditujukan untuk hakim, tapi untuk publik.
 * Tujuan: Menanam benih keraguan. "Masa sih berani gugat kalau nggak ada bukti?"
   Saat publik mulai ragu, Eggi sudah memenangkan ronde pertama. Dia tidak butuh vonis hakim untuk menang; dia hanya butuh keraguan rakyat.

BABAK II: BLUNDER DAN TEORI PERMAINAN

"Berdiri di Tepi Jurang"

Plot berubah drastis pada Oktober 2022. Bambang Tri ditangkap Bareskrim, bukan karena materi gugatan ijazah, melainkan karena blunder fatal: konten "Mubahalah" di podcast yang masuk ranah penistaan agama.

Di sinilah Game Theory Eggi diuji.

Posisi Eggi terjepit. Klien utama ditahan, akses ke "bukti fisik" (jika ada) tertutup. Jika Eggi memaksakan sidang berlanjut tanpa kehadiran Bambang:
 * Dia akan dipermalukan di pengadilan karena gagal menghadirkan saksi/bukti kunci.
 * Hakim akan mengetok palu menolak gugatan.
 * Skakmat: Ijazah Jokowi akan dinyatakan ASLI secara inkrah (berkekuatan hukum tetap).
Perhatikan manuver Eggi: Dia tidak ikut terseret ke dalam sel. Eggi adalah pemain yang tahu persis di mana "garis merah" hukum berada. Dia membiarkan kliennya menabrak garis itu, sementara dia berdiri satu langkah di belakang zona aman.

BABAK III: MANUVER "CABUT GUGATAN"

"The Masterstroke of Cynicism"
Langkah paling brilian sekaligus paling sinis terjadi pada 27 Oktober 2022. Eggi Sudjana mencabut gugatan.
Alasan resminya klise: "Klien ditahan, sulit pembuktian."
Namun, alasan "Shadow"-nya jauh lebih taktis: Preserving the Mystery (Menjaga Misteri).
Jika Cabut Gugatan: Tidak ada putusan pengadilan. Isu ijazah palsu TETAP HIDUP sebagai "konspirasi yang belum terbukti" atau "kebenaran yang dibungkam penguasa".

PROFIL BAYANGAN: THE POLITICAL STUNTMAN

Analisis Karakter Eggi Sudjana
Melihat rekam jejaknya, Eggi bisa dikategorikan sebagai Teflon Lawyer—licin dan anti-lengket.

* Playing Victim Specialist:
   Setiap kali argumen hukumnya buntu, tiang gawang digeser ke isu "Demokrasi" dan "Kebebasan Berpendapat". Kegagalan teknis hukum dibingkai ulang sebagai penindasan politik.

* The Bluff (Gertakan Visual):
   Ingat tumpukan map tebal yang sering dibawa Eggi saat konferensi pers? Itu adalah properti teater. Dalam banyak kasus serupa, tumpukan itu seringkali hanya kliping koran atau fotokopi sekunder, bukan bukti forensik otentik. Tujuannya adalah intimidasi visual untuk meyakinkan kamera, bukan pengadilan.

KESIMPULAN: KEMENANGAN DALAM KEGAGALAN

Secara yuridis, Eggi Sudjana GAGAL total. Gugatan dicabut, klien dipenjara. Namun secara politis, misi Manajemen Isu-nya BERHASIL.
Eggi Sudjana tidak sedang mencari keadilan; dia sedang menyutradarai sebuah pertunjukan, dan panggung pengadilan hanyalah set propertinya.

Di panggung sandiwara politik Indonesia, ada satu "plot twist" yang sebenarnya paling tidak mengejutkan bagi mereka yang memahami naskah aslinya: Eggi Sudjana memuja Jokowi.

Bersambung