Venezuela: Panggung Kekalahan Global Amerika
Ilustrasi. (poto/net).
Oleh: Sabar Tambunan
Satuju.com - Setelah menelan kerugian strategis besar dalam perang proksi Ukraina melawan Rusia, Amerika Serikat kembali menelan pil pahit—kali ini di Venezuela.
Upaya Washington menekan Caracas justru berbalik arah. Penahanan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, alih-alih melumpuhkan negara itu, malah membangkitkan nasionalisme rakyat Venezuela. Kepemimpinan kini beralih ke Presiden perempuan Delcy Rodríguez, yang tampil sebagai simbol perlawanan terhadap intervensi asing.
Venezuela tidak berdiri sendiri. Rusia dan China berada di belakangnya—bukan semata soal ideologi, melainkan kepentingan strategis: minyak bumi Venezuela, salah satu yang terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi.
Venezuela sudah lama keluar dari orbit kendali Amerika. Ia bukan lagi bagian dari OPEC yang bisa didikte Washington. Sementara itu, Arab Saudi sendiri sejak 2016, melalui Visi Saudi 2030, mulai menjaga jarak dari Amerika. Peta energi dunia bergeser. Kendali Amerika atas minyak global semakin menipis.
Amerika semakin lama semakin kehilangan kontrol atas pasokan minyak dunia—dan itu berarti satu hal: fondasi Petro Dollar mulai retak.
Amerika sejatinya telah memasuki resesi struktural sejak krisis 2008. Tujuh belas tahun berlalu, ekonominya belum runtuh sepenuhnya hanya karena satu penyangga utama: Petro Dollar. Tanpa itu, Amerika hanyalah raksasa dengan kaki rapuh.
PETRO DOLLAR DI UJUNG TANDUK
Gagal menguasai minyak Venezuela berarti gagal menahan laju kemerosotan dolar Amerika. Washington terjebak dalam lumpur yang ia ciptakan sendiri—perang, sanksi, dan tekanan global yang kini berbalik menghantamnya.
Akibatnya, program dedolarisasi BRICS Plus melaju tanpa rem. Ketika transaksi energi dan perdagangan global mulai meninggalkan dolar, pertanyaannya sederhana namun mematikan:
Amerika tanpa Petro Dollar, apa jadinya?
Presiden Amerika kini mencoba menggertak Iran. Namun gertakan itu terdengar kosong. Israel justru semakin cemas, karena eskalasi ini berpotensi membangkitkan kembali persatuan negara-negara Arab—yang hampir pasti didukung Rusia, China, Turki, dan negara-negara Asia lainnya.
Amerika semakin runyam, semakin terpojok, dan semakin kehilangan arah.
AMERIKA: “LAME DUCK” GLOBAL
Amerika hari ini adalah bebek lumpuh (lame duck) di panggung dunia: ribut, bising, tapi tak lagi menakutkan.
Tak akan lama lagi, tak ada negara yang gentar atau merasa perlu tunduk pada Amerika. Bahkan sekutu-sekutunya sendiri mulai menghitung ulang harga kesetiaan.
Di Eropa, negara-negara NATO seperti Prancis dan Jerman mulai merasa dirugikan. Perang proksi Ukraina justru membuat rakyat Eropa lebih miskin, lebih dingin, dan lebih lapar. Harga gas melonjak. Biaya hidup membengkak. Musim dingin menjadi mimpi buruk.
Keamanan yang “dibeli” dari Amerika ternyata mahal dan menyesakkan.
DUNIA TANPA AMERIKA?
BRICS Plus terus menguat. Rusia, China, Iran, Venezuela, dan negara-negara Global South semakin percaya diri menentukan nasibnya sendiri.
Indonesia kini resmi menjadi anggota ke-10 BRICS Plus, diterima pada Januari 2025—tiga bulan setelah Presiden Prabowo dilantik. Ini bukan simbolis. Ini arah sejarah.
Dunia justru berpeluang menjadi lebih adil dan lebih damai tanpa dominasi Amerika.
Sejarah sedang bergerak. Dan kali ini, Amerika bukan lagi pengendali, melainkan penonton yang panik di pinggir panggung.

