Ketika Sumpah Menjadi Alat Bertahan: Tinjauan Psikologis Perilaku Koruptor

Ilustrasi. (poto/net).

Jakarta, Satuju.com — Praktik bersumpah atas nama Tuhan yang kerap dilakukan para terdakwa korupsi dinilai bukan sekadar pembelaan diri, melainkan fenomena psikologis yang mencerminkan mekanisme pertahanan terakhir pelaku kejahatan. Hal tersebut disampaikan Denni Hidayat, warga Riau yang bermastautin di Jakarta, dalam kajian psikologisnya tentang sumpah palsu para koruptor.

Menurut Denni, dalam perspektif psikologi hukum, sumpah yang digunakan untuk menutupi kesalahan dikenal sebagai bentuk moral bolstering atau penguatan moral semu. Pelaku berusaha mempertahankan citra diri sebagai pribadi bermoral di tengah bukti dan tuduhan yang memberatkan.

“Bersumpah atas nama Tuhan sering dijadikan senjata retorika oleh terdakwa korupsi untuk meyakinkan publik dan hakim, terutama ketika pembelaan berbasis fakta sangat lemah,” ujarnya.

Denni menilai fenomena tersebut telah berulang kali terjadi dalam berbagai kasus besar di Indonesia. Sejumlah nama seperti Gayus Tambunan, Akil Mochtar, Setya Novanto, hingga Anas Urbaningrum disebut pernah melakukan sumpah publik, namun pada akhirnya tetap terbukti bersalah secara hukum.

Sumpah Kehilangan Kesakralan

Menurut Denni, penggunaan sumpah palsu secara berulang memiliki dampak psikologis dan sosiologis yang serius. Sumpah yang seharusnya menjadi ikatan spiritual yang sakral antara manusia dan Tuhan, kini dipersepsikan masyarakat sebagai bagian dari strategi pembelaan atau bahkan akting politik.

“Akibatnya, sumpah tidak lagi ditakuti. Kesucian simbol-simbol agama mengalami degradasi makna di ruang publik,” jelasnya.

Meski demikian, Denni mengakui bahwa tidak semua orang yang bersumpah berarti berbohong. Mengutip pakar psikologi emosi Paul Ekman, ia menyebut orang jujur terkadang bersumpah karena takut tidak dipercaya. Namun, dalam konteks korupsi, sumpah berlebihan justru kerap menjadi indikator sebaliknya.

Mekanisme Psikologis di Balik Sumpah Palsu

Secara psikologis, Denni menjelaskan bahwa sumpah palsu muncul akibat konflik batin atau disonansi kognitif. Pelaku ingin tetap dipandang sebagai orang baik, meski sadar telah melakukan kesalahan.

“Sumpah menjadi benteng terakhir untuk menghentikan investigasi. Dengan membawa nama Tuhan, orang tua, atau bahkan nyawa, pelaku berharap lawan bicaranya merasa sungkan atau takut melanjutkan pertanyaan,” katanya.

Dalam psikologi forensik, perilaku bersumpah secara berlebihan bahkan mengajak pihak lain untuk saling bersumpah dinilai sebagai red flag. Orang yang jujur umumnya merasa cukup dengan penyampaian fakta, sedangkan pembohong merasa perlu ‘menjual’ kebenaran.

Kebocoran Emosi Tak Bisa Disembunyikan

Denni juga mengutip penelitian Leanne ten Brinke dan Stephen Porter (2012) tentang emotional leakage atau kebocoran emosi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa manusia gagal sepenuhnya memalsukan emosi, meskipun mampu mengatur kata-kata dengan sangat rapi.

Dalam kasus penyesalan atau tangisan palsu, ekspresi wajah sering kali tidak selaras. Misalnya, otot dahi yang seharusnya berkontraksi pada kesedihan tulus justru tidak aktif, sementara ekspresi mulut dilebih-lebihkan. Ketidaksesuaian ini dikenal sebagai emotional incongruence.

“Inilah titik di mana kebohongan sering bocor secara alami, meskipun hanya sesaat,” ujarnya.

Pola Verbal Pembohong

Selain ekspresi wajah, Denni menjelaskan bahwa pembohong cenderung menggunakan kalimat yang lebih panjang, rumit, dan penuh pengulangan. Hal ini terjadi karena beban kognitif yang tinggi saat harus menjaga konsistensi narasi palsu sekaligus mengontrol emosi.

Mengacu pada penelitian Bella DePaulo dan James W. Pennebaker, ia menyebut pembohong sering menunjukkan kontak mata yang terlalu tajam dan agresif untuk memantau reaksi audiens. Sebaliknya, orang yang benar-benar menyesal justru cenderung menunduk secara alami karena rasa malu.

Penutup

Denni menyimpulkan bahwa sumpah palsu bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga mencerminkan krisis moral dan psikologis yang lebih dalam. Beban kognitif dan kegagalan manusia menyelaraskan emosi dengan kebohongan akan selalu meninggalkan jejak perilaku.

“Emosi yang tulus adalah indikator kejujuran yang paling sulit dipalsukan. Pada titik itulah, kebenaran pada akhirnya akan muncul,” pungkasnya.