Kurma Premium dan Definisi “Yang Berhak”

Ilustrasi. (poto Ai)

Oleh: ​Lhynaa Marlinaa

​Satuju.com - Senyum sumringah terpancar di wajah Menteri Agama dan Duta Besar Arab Saudi. Di atas meja, kotak-kotak berisi "emas hitam" dari gurun pasir itu diserahterimakan secara simbolis.

​Angkanya fantastis: 100 TON.

Dan bukan kurma curah pasar tanah abang, melainkan kurma kualitas Premium. Kurma yang biasanya hanya mampir di lidah para sultan.

​Ini kabar gembira. Rezeki nomplok jelang Ramadan. Tapi, di balik manisnya kurma itu, terselip rasa was-was khas rakyat +62.

​DEFINISI "YANG PALING BERHAK"

​Pak Menteri berjanji, kurma ini akan disalurkan kepada pihak yang "paling berhak".

Nah, di sinilah ujian amanahnya.

​Kita tentu tidak ingin, definisi "paling berhak" itu mengalami distorsi makna.

Jangan sampai yang dianggap "berhak" adalah mereka yang punya NIP, punya jabatan, atau mereka yang "dekat" dengan lingkaran pembagian.

​Sementara kaum duafa, anak yatim, dan fakir miskin yang sebenarnya menjadi target utama sedekah, malah cuma dapat beritanya saja di TV.

​MITOS ATAU LOGISTIK?

​Pak Menteri menyebut kurma sebagai "buah spiritual" atau mitos pembuka puasa.

Betul. Tapi bagi rakyat kecil, ini bukan soal mitos. Ini soal LOGISTIK.

​Di tengah harga beras yang naik turun dan sembako yang mulai "demam" jelang puasa, 100 ton kurma gratis adalah bantuan nyata untuk menghemat pengeluaran dapur.

​JANGAN SAMPAI "MENGUAP"

​100 Ton itu setara dengan 100.000 Kilogram.

Jika satu orang miskin dapat 1/2 Kg saja, artinya ada 200.000 jiwa yang bisa berbuka dengan layak.

​Publik kini memantau. Kita berharap kurma-kurma premium ini benar-benar mendarat di piring rakyat jelata, di masjid-masjid pelosok, dan di panti-panti asuhan.

​Bukan "nyasar" jadi isian parcel lebaran pejabat, atau tiba-tiba muncul di lapak online dengan harga miring.

​Terima kasih Arab Saudi. Dan untuk Pak Menteri, selamat bekerja membagikan amanah.

Ingat Pak, rasa manis kurma itu akan hilang kalau bercampur dengan rasa kecewa rakyat yang cuma bisa menelan ludah.