Rahasia Akurasi Kalender Hijriah: Dari Algoritma hingga Astronomi Modern

Ilustrasi. (poto/net).

​Satuju.com - Pernahkah kamu berpikir bagaimana ilmuwan atau sistem di smartphone kamu tahu kapan jatuhnya tanggal 1 Ramadan sepuluh tahun dari sekarang? Ya, selama ini kita mungkin membayangkan penentuan kalender Islam selalu identik dengan kegiatan memantau bulan di ufuk setiap sore. Tapi faktanya, sains di balik kalender Hijriah jg menyimpan kejeniusan matematis yang luar biasa.

​Sistem perhitungannya ternyata sudah diproyeksikan hingga ribuan tahun ke depan. Mari kita bedah rahasia di balik akurasi penanggalan kuno yang mengalahkan waktu ini!

​1. Rahasia Algoritma Tabular: Matematika Tanpa Teleskop

​Jauh sebelum superkomputer ditemukan, para astronom Muslim sejak abad ke-8 sudah menciptakan Kalender Hijriah Tabular. Ini adalah mahakarya aritmatika yang murni menggunakan hitungan matematika tanpa perlu melihat langit secara langsung setiap bulan.

​Cara kerjanya bergantung pada siklus pasti yang berulang setiap 30 tahun. Dalam siklus tersebut, dikunci aturan matematis: 11 tahun kabisat (355 hari) dan 19 tahun biasa (354 hari). Karena polanya yang super presisi dan stabil, algoritma inilah yang sekarang dipakai oleh raksasa teknologi (seperti Apple dan Microsoft) untuk fitur konversi kalender Masehi ke Hijriah di gadget kamu.

​2. Kalender Ummul Qura: Superkomputer Penjaga Waktu

​Kalau kamu melihat kalender resmi Arab Saudi, mereka menggunakan Sistem Ummul Qura. Ini bukan sekadar kalender statis, melainkan algoritma astronomi observasional yang sangat canggih.

​Sistem ini mengkalkulasi posisi hilal (bulan sabit muda) secara presisi dengan parameter mutlak di koordinat langit Mekkah:

​Konjungsi bulan dan matahari (Ijtimak) harus terjadi sebelum matahari terbenam.

​Bulan harus terbenam setelah matahari terbenam.

​Data pergerakan benda langit ini diolah oleh superkomputer, membuat posisi bulan bisa dilacak mundur maupun maju dengan tingkat akurasi yang absolut.

​3. Kenapa Batasnya di Tahun 9999?

Fase Bulan itu ilmu pasti. ​Lalu kenapa sering disebut "hanya" sampai tahun 9999 Masehi? Faktanya, ini bukan batasan dari kemampuan ilmu astronomi kita. Angka 9999 biasanya hanyalah batasan memori format standar datetime pada bahasa pemrograman komputer (yang secara default hanya dirancang untuk membaca 4 digit tahun).

​Antara Sains dan Tradisi: Sebuah Harmoni

​Walaupun algoritmanya sudah dihitung rapi sampai ribuan tahun ke depan, ada satu realitas unik di lapangan. Untuk urusan ibadah esensial seperti awal puasa atau Lebaran, mayoritas umat Islam masih berpegang pada cara kuno yaitu metode Rukyatul Hilal (observasi visual mata telanjang).

​Jadi, kalau superkomputer bilang bulan sudah di atas ufuk, tapi sore itu di lapangan tertutup awan badai atau mendung tebal, awal bulan ibadahnya bisa bergeser satu hari. 

Kalau kamu sebelumnya mengira kalender Hijriah itu murni ilmu tebak-tebakan cuaca musiman, kamu sudah salah. Di baliknya ternyata terdapat fondasi astrofisika dan komputasi yang sangat solid. Makasih buat kamu yang sudah mau menyelami sisi sains dari sistem waktu yang luar biasa ini!