BRIN: Sumatera Berpotensi Jadi Wilayah Paling Rentan Cuaca Ekstrem hingga 2040

Ilustrasi. (poto/net).

Jakarta, Satuju.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan Pulau Sumatra berpotensi menjadi wilayah paling rentan terhadap cuaca ekstrem pada periode 2021–2040. Kerentanan tersebut terutama dipicu oleh kombinasi peningkatan hujan dan angin ekstrem yang terjadi secara bersamaan, khususnya pada musim hujan.

Temuan ini disampaikan oleh Profesor Riset BRIN sekaligus ahli iklim dan cuaca ekstrem, Erma Yulihastin. Proyeksi tersebut disusun menggunakan 14 model iklim dengan fokus pada dua komponen utama cuaca ekstrem, yakni hujan dan angin ekstrem, serta keterkaitan di antara keduanya.

“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa Sumatra menempati peringkat pertama untuk peningkatan angin ekstrem pada musim hujan, baik dari sisi luas wilayah terdampak maupun intensitasnya,” demikian hasil kajian tersebut.

Secara geografis, tingginya kerentanan Sumatra dipengaruhi oleh posisinya yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan Selat Malaka. Selain itu, intensitas monsun barat yang kuat serta meningkatnya aktivitas badai tropis turut memicu kenaikan frekuensi dan intensitas hujan serta angin ekstrem.

Secara spasial, peningkatan hujan ekstrem di Sumatra terkonsentrasi di wilayah Sumatra bagian utara dan Riau, termasuk Pekanbaru dan kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Di kawasan ini, hujan dan angin ekstrem cenderung meningkat secara bersamaan, yang menjadi indikasi awal keterkaitannya dengan aktivitas badai tropis.

Kerentanan tersebut terutama muncul pada periode musim hujan Desember hingga Februari. Karakter cuaca ekstrem yang bersifat high frequency dan high impact dinilai meningkatkan risiko terhadap infrastruktur, kawasan pesisir, serta daerah rawan banjir.

BRIN menilai tantangan terbesar ke depan bukan hanya pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem itu sendiri, melainkan pada kesiapan sistem mitigasi risikonya. Sejumlah langkah prioritas dinilai perlu segera dilakukan, antara lain memperkuat sistem peringatan dini berbasis cuaca ekstrem dan badai tropis, meningkatkan kualitas pemodelan iklim beresolusi tinggi hingga skala lokal, serta memperbaiki tata ruang wilayah pesisir dan daerah rawan banjir.

Selain itu, integrasi data risiko cuaca ekstrem ke dalam sistem keuangan, asuransi, serta perencanaan pembangunan daerah juga menjadi krusial. Upaya ini dinilai penting untuk mendorong pemantauan berkelanjutan, meningkatkan kesiapsiagaan komunitas, dan menghasilkan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika perubahan iklim.

Dengan proyeksi tersebut, penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi peningkatan cuaca ekstrem di Sumatra dalam dua dekade mendatang.