Boimin Diduga Sengaja Beli Sawit di Pinggir Sungai Tapung Dari Ma’ruf Sugiyanto Cs, “Nelayan Kehilangan Mata Pencaharian”
Ilustrasi
Satuju.com - Tim penghijauan sebelumnya yang terindikasi gagal kini ditata ulang oleh tim Mandala Foundation yang baru di Desa Batu, Gajah, Kecamatan Tapung, Kampar, Riau. Penataan kembali ini langsung diawasi oleh PT Perawang Sukses Perkasa Industri (PSPI).
Terancam batalnya penghijauan ini terbukti karena ada niat tersembunyi “merampok lahan dengan dalih penghijauan”. Saat ini lahan konservasi dan daerah Aliran Sungai (DAS) Tapung itu sudah dikuasai Boimin Cs.
Boimin ini adalah salah satu orang kaya Batu Gajah, saat ini berdasarkan laporan warga, “Boimin itu memang suka sawit di pinggir sungai, sepengetahuan kami mungkin ada sekira 80 hektar sawit Boimin di sepanjang sungai”.
Karena tidak sesuai dengan permintaan untuk penghijauan kepada PT Perawang Sukses Perkasa Industri (PSPI) di Desa Batu, Gajah, Kecamatan Tapung, Kampar, Riau, pada Kamis (19/2/26) lalu melalui humasnya Riki, kini telah mempercayakan pengelolaan kepada warga binaan baru perusahaan pada Ketua BPD Syamsul dan rekan - rekan untuk melanjutkan penghijauan kembali lahan konservasi dan DAS di atas izin PT PSPI tersebut.
Untuk mensukseskan program ini Ma'ruf Sugiyanto Cs telah dilarang masuk PT PSPI karena dikhawatirkan akan menimbulkan kekacauan dan perpecahan di tengah masyarakat yang tidak mengerti akan lestari lingkungan.
Sebelumnya Ma'rus Sugiyanto sendiri sudah diperingati oleh tim agar tidak mengganggu pohon Daerah Aliran Sungai (DAS), namun setelah berpindah (diduga dijual) ke tangan Boimin justru pohon yang jaraknya 1 meter pinggir DAS Sungai Tapung ini dihabiskan dan saat ini kabarnya hanya tinggal batang sawit Boimin.
“Kami dari tim yang ditunjuk Yayasan berusaha akan memberikan pengertian kepada warga, sebab dengan lestarinya alam (hutan dan DAS) akan dirasakan 4 tahun kedepan. Saat ini Sungai Tapung yang merupakan hulu Sungai Siak sangat keruh sebab disepanjang sungai sudah rusak parah karena ditanami sawit,” kata Ketua BPD Baru Gajah, Syamsul.
Syamsul yang selama ini tinggal di Batu Gajah sudah merasakan dampak sungai ini keruh, “dulu kami memancing ikan selalu dapat banyak bahkan Arowana saja masih banyak kami lihat dan jenis ikannya pun bermacam - macam namun kalau saat ini kalau memancing ikan yang dapat hanya Baung dan lele itupun sedikit,” kata Syamsul, Jumat (27/2/26).
Sebelumnya atau tepatnya awal puasa tahun 2025 lalu lahan ini dihijaukan oleh tim Yayasan Sahabat Alam Raya (Sahara) berjalan 5 bulan lahan ini diperjual belikan oleh Ma'aruf Sugiyanto kepada boimin dan kawan - kawan.
Tragisnya daerah aliran sungai (DAS) yang seharusnya tak disentuh justru malah itu yang pertama menjadi objek jual beli untuk memperkaya diri pada lahan konservasi PSPI tersebut.
Hal ini sangat mengecewakan tim Yayasan Sahabat Alam Raya (Sahara) yang awalnya sebagai penggagas penghijauan dalam lahan konservasi di atas izin PT PSPI tersebut.
Tim ini terdiri dari beberapa aktivis lingkungan dan pecinta alam di Riau, tujuan para penggagas ini adalah menyelamatkan lahan konservasi dan DAS yang sudah beberapa kali di jual oleh ninik mamak Batu Gajah.
Boimin sendiri belum bisa dikonfirmasi, namun dalam sebuah pertemuan pada Jumat (27/2/26) di pondok penghijauan mengatakan dia hanya ditunjuk saja oleh Tim Ma'ruf Sugiyanto untuk menguasai lahan konservasi PSPI tersebut. Saat ini sudah ada bukti kuat di tangan aparat penegak hukum Krimsus Polda Riau kalau Boimin telah membeli lahan tersebut, namun untuk mengaburkan pihak lain Ma’aruf diduga sengaja membuat tanda terima kwitansi tersebut dengan alasan bantuan penghijauan.
Banyak berharap dana awal itu harus diaudit kebenarannya, apakah nanti dana yang dikeluarkan banyak pihak tersebut murni penghijauan atau hanya bantuan untuk menguasai pohon sawit lahan konservasi PT PSPI.
Ma'ruf Sugiyanto sendiri hingga berita ini diterbitkan seperti belum mau menjawab konfirmasi media Tim Jurnalis Metro Group.**

