Agus Widjojo dan Pesan Terakhir tentang Supremasi Sipil
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com – Indonesia kehilangan salah satu pemikir militer terbaiknya. Letnan Jenderal TNI (Purn.) Agus Widjojo mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto pada Minggu malam, 8 Februari 2026. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi korps militer dan korps diplomatik, tetapi juga menyisakan ruang refleksi yang dalam bagi masa depan demokrasi kita.
Dikenal sebagai "Jenderal Intelektual", Agus Widjojo bukanlah sosok serdadu konvensional. Di balik seragam hijaunya, tersimpan visi besar tentang supremasi sipil. Salah satu kutipannya yang paling membekas—dan kini viral sebagai pengingat—adalah: "Negara yang mengandalkan tentara tidak akan maju."
Melampaui Dinding Barak
Lahir di tengah gejolak revolusi pada 1947, Agus tumbuh dalam tradisi militer yang kuat. Namun, pengalamannya menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan persentuhannya dengan berbagai pemikiran global membentuk perspektif yang berbeda. Ia menjadi salah satu arsitek utama reformasi internal TNI pasca-1998.
Bagi Agus, militer yang kuat bukanlah militer yang menguasai panggung politik, melainkan militer yang profesional dan tunduk pada otoritas sipil yang demokratis. Ia percaya bahwa kemajuan sebuah bangsa diukur dari kuatnya institusi sipil, bukan dari seberapa sering sepatu lars terdengar di koridor kekuasaan.
Gubernur di Menara Intelektual
Meski menyandang gelar "Gubernur", Agus Widjojo tidak memimpin sebuah provinsi melalui bilik suara. Dari tahun 2016 hingga 2022, ia menjabat sebagai Gubernur Lemhannas (Lembaga Ketahanan Nasional). Di sana, ia menjadikan Lemhannas sebagai kawah candradimuka bagi para pemimpin bangsa untuk belajar tentang ketahanan nasional yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan, bukan sekadar kekuatan fisik.
"Beliau adalah guru bagi kami semua. Ia mengajarkan bahwa prajurit sejati adalah mereka yang paling memahami batas-batas perannya dalam demokrasi," kenang salah satu koleganya di Lemhannas.
Tugas Terakhir di Manila
Setelah menyelesaikan tugasnya di Lemhannas, Agus tetap mengabdi sebagai Duta Besar RI untuk Filipina. Di Manila, ia membawa ketenangan diplomasi yang sama dengan ketajaman analisisnya saat masih di barak. Hingga akhir hayatnya pada usia 78 tahun, ia tetap menjadi jembatan bagi kepentingan nasional di kancah internasional.
Warisan yang Tak Padam
Kini, sang jenderal telah beristirahat dengan tenang di TMP Kalibata. Namun, pesan yang ia tinggalkan tentang "negara yang tidak boleh hanya mengandalkan tentara" tetap bergema sebagai peringatan sekaligus panduan.
Agus Widjojo telah membuktikan bahwa mencintai tanah air bisa dilakukan dengan cara yang paling elegan: dengan berani meletakkan kekuasaan demi melihat bangsanya tumbuh lebih dewasa secara mandiri.

