Ketika ABK Terancam Dieksekusi, Sindikat Masih Berkeliaran
Ilustrasi. (poto Ai)
Oleh: Lhynaa Marlinaa
Satuju.com - Tiga hari bekerja di atas kapal, Fandi Ramadhan mungkin tak pernah membayangkan hidupnya akan terancam di ujung laras senapan regu tembak. Di tengah kerasnya ombak lautan, ancaman maut rupanya bukan datang dari badai, melainkan dari muatan gelap seberat 1,9 ton yang ia klaim tidak pernah diketahuinya.
Kini, di saat palu hakim siap dijatuhkan dengan tuntutan maksimal, sebuah pertanyaan besar menggema dari gedung parlemen: Di mana dalang utama di balik penyelundupan sabu raksasa ini?
Menjerat Ikan Kecil, Bos Besar Tak Tersentuh
Komisi III DPR RI secara terbuka menyuarakan keheranannya atas proses penegakan hukum yang dinilai timpang. Hampir satu tahun berlalu sejak pengungkapan rekor penyelundupan narkotika ini, jaring hukum tampaknya baru mampu menjerat para pekerja lapangan, sementara sang gembong—pemilik modal dan kargo haram tersebut—masih menghirup udara bebas.
Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah Abduh, menyoroti tajam lambannya pengungkapan identitas aktor utama di balik layar. Ia mempertanyakan arah proses hukum yang justru bergegas menuju tuntutan hukuman mati terhadap salah satu anak buah kapal (ABK), Fandi Ramadhan, tanpa ada kejelasan nasib para otak kejahatan yang sebenarnya.
Keadilan yang Harus Proporsional
Menjatuhkan hukuman mati kepada pekerja rendahan tanpa menyentuh bos besar dianggap sebagai sebuah ironi dalam misi pemberantasan narkotika. Pengakuan Fandi yang menyatakan bahwa dirinya baru bekerja selama tiga hari dan sama sekali buta akan isi kargo kapal menjadi titik krusial yang tidak boleh diabaikan begitu saja oleh pengadilan.
Gus Abduh secara tegas meminta Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kejaksaan untuk mencermati kembali secara mendalam konstruksi perkara ini.
"Penegakan hukum harus dilakukan secara adil dan proporsional dengan mempertimbangkan peran masing-masing pihak," ujar Gus Abduh, mengingatkan aparat agar tuntutan maksimal tidak dijatuhkan secara membabi buta.
Menanti Ketegasan yang Tepat Sasaran
Perang melawan peredaran narkoba jelas membutuhkan ketegasan yang tanpa kompromi. Namun, ketegasan yang salah arah berpotensi besar mencederai rasa keadilan itu sendiri. Tuntutan hukuman mati mutlak dikaji dengan kehati-hatian tingkat tinggi untuk mencegah terjadinya kekeliruan fatal dalam menetapkan pihak yang paling bertanggung jawab.
Publik dan wakil rakyat kini menanti langkah konkret dan berani dari para penegak hukum. Bukan sekadar mengejar angka penyelesaian kasus dengan mengorbankan mereka yang berada di rantai terbawah, melainkan keberanian untuk memburu dan meruntuhkan sindikat ini langsung dari pucuk pimpinannya.

