Target Tinggi Badan 180 Cm Disoal, Testimoni Pribadi Kepala BGN Jadi Sorotan

Ilustrasi. (poto Ai)

Jakarta, Satuju.com – Harapan besar disematkan pada pundak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, pernyataan terbaru dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang mengaitkan program ini dengan target tinggi badan siswa mencapai 180 sentimeter memicu gelombang skeptisisme. Pasalnya, sang pejabat menggunakan pertumbuhan fisik kedua anaknya di rumah sebagai testimoni keberhasilan—sebuah logika yang dianggap "melompat" jauh dari realitas nutrisi di lapangan.

​Testimoni Pribadi vs Kebijakan Publik

​Dalam sebuah pernyataan yang viral, Kepala BGN mengeklaim bahwa asupan nutrisi yang tepat dapat membawa anak-anak Indonesia tumbuh menjulang hingga 180 cm. "Sudah terbukti dua anak saya di rumah," ujarnya.

​Pernyataan ini segera menuai kritik pedas dari pemerhati kebijakan publik dan ahli gizi. Masalah utamanya sederhana: Sejak kapan anak-anak pejabat tersebut mengonsumsi makanan dengan standar biaya Rp8.000 hingga Rp15.000 per porsi sebagaimana yang direncanakan dalam program MBG?

​Ada jurang lebar antara "nutrisi rumah tangga pejabat" dengan "nutrisi subsidi negara". Anak-anak di lingkungan keluarga mapan biasanya mendapatkan:

​Asupan protein hewani berkualitas tinggi secara konsisten sejak dalam kandungan.

​Suplemen tambahan dan akses kesehatan premium.

​Lingkungan hidup dengan sanitasi sempurna yang mendukung penyerapan nutrisi.

​Matematika Gizi: Bisakah 15 Ribu Mencetak 180 Cm?

​Logika yang ditawarkan BGN dianggap mengabaikan variabel ekonomi. Dengan anggaran berkisar antara Rp8.000 hingga Rp15.000, tantangan penyediaan protein (seperti daging sapi atau ikan segar) yang cukup untuk memicu lonjakan pertumbuhan setinggi 180 cm sangatlah berat.

​"Menjanjikan tinggi badan 180 cm pada populasi yang rata-rata tingginya 166 cm hanya dengan satu porsi makan siang sekolah adalah over-claim yang tidak saintifik," ungkap seorang analis gizi.

​Faktor Genetik dan Jendela Pertumbuhan

​Secara biologis, tinggi badan ditentukan 60%–80% oleh genetika. Jika orang tua memiliki genetik rata-rata tinggi badan Indonesia, asupan makanan hanya berfungsi untuk mencapai "batas atas" potensi tersebut, bukan menciptakan mutasi fisik menjadi raksasa.

​Selain itu, pertumbuhan tinggi badan yang signifikan ditentukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Intervensi pada usia sekolah melalui MBG memang sangat baik untuk kecerdasan dan energi belajar, namun untuk mengubah postur tubuh secara nasional hingga 180 cm, dibutuhkan lebih dari sekadar nasi kotak seharga belasan ribu rupiah.

​Kesimpulan: Harapan atau Sekadar Jualan?

​Publik kini mempertanyakan apakah narasi "180 cm" ini adalah target saintifik atau sekadar jargon politik untuk mempercantik program. Menggunakan anak sendiri sebagai tolak ukur tanpa mempertimbangkan perbedaan kelas ekonomi dan fasilitas kesehatan hanya akan menciptakan ekspektasi palsu di tengah masyarakat.

​Program MBG tetap memiliki urgensi besar untuk menekan angka stunting dan meningkatkan gizi nasional. Namun, menyamakannya dengan standar gizi anak pejabat adalah perbandingan yang tidak apel-ke-apel—bahkan cenderung abai terhadap realitas piring makan rakyat kecil.