Malas Cuci Piring? Psikologi Ungkap 3 Ciri Kepribadian di Baliknya
Ilustrasi. (poto/net).
Satuju.com - Cuci piring adalah proses membersihkan peralatan makan, minum, dan masak (piring, gelas, sendok, wajan) menggunakan air dan sabun untuk menghilangkan sisa makanan, kotoran, serta minyak.
Untuk kamu yang nggak suka cuci piring atau nggak langsung mencucinya setelah makan, ada beberapa ciri kepribadian yang menggambarkan diri kamu menurut ilmu psikologi.
1. Fokus pada Prioritas yang Lebih Besar
Orang-orang yang dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengerjakan proyek kesukaan mereka, sehingga tidak memerhatikan hal-hal lain di sekitar mereka termasuk ‘mengabaikan’ cucian piring kotor yang menumpuk.
Ternyata, orang-orang ini bukan malas, namun mereka beroperasi dengan apa yang disebut psikolog sebagai perhatian selektif, seperti melansir dari VegOut. Otak mereka mengalokasikan sumber daya untuk apa yang mereka anggap paling penting pada saat itu.
2. Memproses Stres dengan Cara Berbeda
Sebagian orang mungkin akan mengatasi stres dengan cara membersihkan rumah, namun ada juga orang-orang yang justru ‘mengabaikan’ pekerjaan rumah sepenuhnya.
Ketika merasa kewalahan, orang-orang yang nggak suka mencuci piring ini memprioritaskan pengaturan emosi daripada keteraturan eksternal, Beauties. Piring-piring kotor yang menumpuk menjadi ‘tidak terlihat’ karena semua sumber daya mental mereka terfokus pada pengelolaan keadaan internal mereka.
3. Memiliki Toleransi Sensorik yang Berbeda
Melansir dari VegOut, studi tentang pemrosesan sensorik menunjukkan bahwa orang memiliki tingkat toleransi yang sangat berbeda terhadap ‘kekacauan’ visual.
Apa yang membuat seseorang merasa terganggu mungkin bahkan tidak berpengaruh pada orang lain. Nah, orang-orang yang sering meninggalkan piring kotor memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap rangsangan visual, artinya pemandangan piring kotor tidak memicu respons stres yang sama seperti pada orang lain.
Namun, ini bukan berarti mereka adalah orang yang ceroboh atau berantakan, melainkan otak mereka secara harfiah memproses informasi visual secara berbeda, memungkinkan mereka untuk berfungsi dengan sempurna di lingkungan yang akan membuat orang lain kewalahan.

