Narasi Sabar Tambunan: Serangan Donald Trump ke Iran Disebut Terkait Minyak China dan Perang Dagang
Serangan Donald Trump ke Iran
Jakarta, Satuju.com - Beredar narasi di media sosial yang menyebut serangan militer Donald Trump terhadap Iran dilakukan untuk memutus pasokan minyak Iran ke China, seiring memanasnya persaingan dagang antara Washington dan Beijing.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sabar Tambunan melalui akun media sosialnya, @sabartambunan63. Ia menuding Amerika Serikat telah dua kali duluan menyerang Iran, termasuk saat pembicaraan damai antara Teheran dan Washington tengah berlangsung, yaitu pada Juni 2025 dan saat ini.
Sabar juga mengklaim memperoleh “informasi rahasia” bahwa 89 persen minyak Iran dibeli oleh China. Berdasarkan asumsi tersebut, ia menyimpulkan bahwa langkah Trump menyerang Iran lebih dipicu oleh kekalahan Amerika Serikat dalam perang dagang melawan China.
Menurutnya, situasi itu semakin diperparah setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif perang dagang yang sebelumnya diberlakukan Trump. Ia menilai pembatalan tersebut membuat posisi politik dan ekonomi Trump tertekan.
Dalam narasi yang sama, Sabar turut menyinggung Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut Prabowo telah dua kali “tertipu”, yakni pertama dengan menandatangani perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat. Serta kedua Indonesia bergabung sebagai salah satu anggota Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Trump.
Lebih lanjut, Sabar mengkritik rencana Prabowo untuk berkunjung ke Timur Tengah guna mendorong perdamaian antara Iran dan Israel. Ia menyampaikan sindiran keras terhadap langkah tersebut dan mempertanyakan efektivitas upaya mediasi Indonesia di tengah konflik yang kompleks dan melibatkan kepentingan global.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat, pemerintah Iran, maupun pemerintah Indonesia terkait klaim-klaim yang disampaikan dalam unggahan tersebut. Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah sendiri memang tengah menjadi sorotan dunia, terutama terkait dinamika hubungan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, serta implikasinya terhadap stabilitas energi global dan perdagangan internasional.
Pengamat menilai, di tengah derasnya arus informasi di media sosial, publik diimbau untuk tetap berhati-hati dan memverifikasi setiap klaim yang beredar melalui sumber resmi dan kredibel.

